HomePerspectiveArtikelPentingnya Boundaries (batasan) dengan Rekan Kerja

Pentingnya Boundaries (batasan) dengan Rekan Kerja

Di tempat kerja menjalin hubungan baik dengan rekan kerja memang sangat dibutuhkan agar dapat memudahkan kita saat menyelesaikan tugas, berkoordinasi, dan meningkatkan kenyamanan kerja. Namun, di sisi lain kita juga perlu menetapkan boundaries (batasan). Mengapa? Karena batasan dapat menjaga hubungan kerja tetap sehat, profesional, dan tidak menguras energi atau emosional. Di tempat kerja kita sering menghabiskan banyak waktu, bertemu hampir setiap hari, menghadapi tekanan kerja, deadline, dan dinamika kerja secara bersama. Tanpa adanya batasan yang jelas dapat memunculkan tekanan, konflik, kesalahpahaman, hingga rasa dimanfaatkan. 

Boundaries bukan berarti menjaga jarak atau menjadi pribadi yang tidak ramah, namun cara kita menentukan batasan sampai mana orang lain bisa mengakses waktu, energi, emosi, dan kehidupan pribadi kita. Sebab, hubungan yang terlalu terbuka tanpa batasan sering kali terlihat nyaman di awal, tetapi lama-kelamaan bisa memicu kelelahan emosional, konflik, bahkan membuat pekerjaan terasa lebih berat dari seharusnya. Batasan yang jelas juga dapat meningkatkan produktivitas serta menjaga hubungan kerja yang lebih profesional dan sehat.  

Berikut adalah poin-poin penting mengapa boundaries dengan rekan kerja itu penting:

1. Menjaga profesionalisme

Hubungan yang terlalu dekat dengan rekan kerja terkadang membuat kita sulit bersikap objektif. Kritik terasa personal, keputusan jadi bias, atau muncul rasa tidak enakan saat harus menegur kesalahan rekan kerja. Dalam beberapa kasus, kedekatan yang berlebihan juga bisa menimbulkan drama kantor yang akhirnya mengganggu suasana kerja. Jika dibiarkan hal ini dapat membuat kita sulit bersikap profesional. Inilah mengapa boundaries atau batasan yang jelas penting, batasan dapat membuat kita tetap akrab tanpa kehilangan profesionalisme kerja.

2. Mencegah konflik

Batasan yang jelas dengan rekan kerja, baik fisik, emosional, maupun waktu, dapat mengurangi potensi konflik dan gesekan interpersonal. Dengan boundaries, semua orang lebih memahami apa yang nyaman dan tidak nyaman bagi satu sama lain. Begitupun sebaliknya, tanpa adanya boundaries atau batasan yang jelas terkadang rekan kerja yang ‘terlalu akrab’ bisa membuat situasi kerja menjadi tidak nyaman. Misal, mulai mengatur jadwalmu tanpa bertanya terlebih dahulu, terus meminta bantuan atau memberikan tugas tambahan padahal beban kerja sudah penuh, terlalu ikut campur urusan pribadi, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini yang sering memunculkan konflik yang sebenarnya bisa dihindari.

3. Menjaga kesehatan mental

Di tempat kerja banyak orang yang merasa kelelahan bukan semata-mata karena pekerjaannya, tetapi karena akses orang lain terhadap dirinya terlalu besar. Namun, dengan memberikan batasan dapat menjaga kesehatan mental dan memberikan ruang serta batasan yang sehat, karena dapat fokus sepenuhnya pada pekerjaan tanpa terlalu banyak terganggu oleh masalah di luar lingkup pekerjaan atau profesi. Batasan dapat dimulai dari membatasi waktu mengobrol informal, termasuk tidak merespon pesan di luar jam kerja atau tidak harus selalu membantu rekan kerja di luar jobdesc. Hal ini dapat menjadikan kita memprioritaskan kesehatan diri, mengurangi stres akibat pekerjaan, dan terhindar dari kelelahan emosional.

4. Meningkatkan fokus dan produktivitas

Menetapkan boundaries atau batasan juga dapat membantu meningkatkan fokus dan produktivitas. Dengan adanya boundaries yang jelas, seseorang dapat fokus sepenuhnya pada pekerjaan tanpa terlalu banyak terganggu oleh masalah di luar lingkup pekerjaan. Misalnya, dengan membatasi interaksi yang tidak perlu. Ketika kita mampu mengelola batasan dengan baik, pekerjaan dapat diselesaikan lebih efisien dan energi tidak mudah terkuras oleh hal-hal di luar prioritas kerja.

5. Memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan

Memiliki kedekatan dengan rekan kerja memang bagus, tapi tanpa batas yang jelas terkadang urusan pribadi dapat bercampur dengan pekerjaan sehingga terkadang menimbulkan situasi yang rumit. Inilah mengapa tidak semua hal pribadi perlu dibagikan pada rekan kerja, meskipun kita merasa nyaman untuk bercerita dengan mereka. Menjaga sebagian kehidupan pribadi tetap private bukan berarti tidak percaya kepada rekan kerja, melainkan bentuk perlindungan diri dan profesionalisme. Selain itu, hal ini membantu menjaga keseimbangan hidup di luar pekerjaan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor