Antara Karir dan Cita-cita

oleh | 21 December 2009 | 2 Komentar

oleh: Nunik Utami

Pemenang harapan ‘Share Your Career Story’

Karir. Mendengar kata yang satu itu membuat ingatan saya terbang kembali ke belasan tahun silam. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA. Tidak ada hal lain yang terpikir waktu itu, kecuali belajar dan belajar. Saya lakukan itu karena saya memiliki cita-cita yang tinggi. Menjadi dokter.

Cita-cita itu mempengaruhi hidup saya. Hari-hari saya lalui dengan semangat. Semua materi pelajaran yang diberikan oleh guru, saya pelajari baik-baik. Beruntung, lingkungan sekitar sangat mendukung. Saya hidup di tengah teman-teman yang memiliki cita-cita yang sama. Melihat teman-teman yang sangat tekun belajar, saya semakin terpacu. Terbayang sudah bagaimana nanti saya melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran.

Saat itu hampir tidak ada waktu untuk melakukan hal lain. Saya sama sekali tidak tergiur untuk bermain, apalagi mencari hiburan layaknya remaja-remaja lainnya. Tak heran jika nilai-nilai ulangan saya diatas rata-rata. Tak hanya itu, pihak sekolah juga menawarkan program PMDK untuk saya dan beberapa teman. Bukan main senangnya hati saya, karena itu adalah penawaran untuk masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa tes. Saya semakin bangga, karena program tersebut hanya ditawarkan untuk siswa yang berprestasi.

Menjelang akhir sekolah, saya semakin konsentrasi belajar. Saya ingin hasil ujian akhir nanti memuaskan, sehingga jalan menuju cita-cita akan terbuka lebar.

Saya memang sudah menyiapkan rencana untuk masa depan. Segalanya tergambar rapi di benak saya. Namun saya lupa, bahwa jalan hidup setiap orang telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta.

Suatu hari Ibu mengajak bicara. Saat itu saya melihat wajah itu begitu mendung. Sepertinya ada hal besar yang akan disampaikan.

Benar saja. Berita yang Ibu bawa membuat saya shock. Ibu meminta pengertian saya. Ibu juga minta maaf karena telah menghancurkan mimpi-mimpi saya. Ya, Ibu dan Bapak tidak dapat membiayai kuliah saya. Pekerjaan Bapak sedang tidak stabil. Keuangan keluarga memburuk. Jangankan untuk membiayai kuliah di fakultas kedokteran, untuk makan sekeluarga saja Ibu sudah merasa deg-degan, cukup atau tidak.

Saya merasa seperti mendengar petir di siang yang terang benderang. Saya tersadar dari mimpi indah. Terlalu tekun belajar membuat saya lupa memantau keadaan keuangan orang tua. Ternyata keadaannya lebih parah dari yang saya duga.

Saya pun berusaha berdiskusi lagi dengan orang tua. Siapa tahu biaya kuliah masih bisa diusahakan. Tapi hasilnya nol. Untuk kuliah di fakultas lain (selain di fakultas kedokteran impian saya), mereka juga tak mampu. Jawaban mereka : biaya masuk mungkin bisa diusahakan, tetapi biaya selanjutnya, tidak bisa janji.

Mendengar semuanya, saya sedih bukan kepalang. Oke, akhirnya saya bisa mengerti kondisi keuangan orang tua. Percuma saya masuk perguruan tinggi kalau nantinya putus di tengah jalan karena biaya. Tapi dalam hati kecil, saya merasa terpuruk. Saya biasa menjadi murid yang terpandang karena nilai-nilai pelajaran yang baik, sekarang harus berhenti belajar. Benar-benar tidak mudah untuk menerima kenyataan ini. Saya merasa sangat kecil dan sama sekali tak berarti.

Akhirnya, di saat teman-teman sedang berjuang dalam ujian masuk perguruan tinggi, saya santai-santai di rumah. Tawaran masuk perguruan tinggi tanpa tes pun saya tolak. Percuma saja. Toh kalau saya kuliah, tidak akan selesai karena keterbatasan dana.

Sedih, sakit, dan hampir putus asa. Saya tidak tahu lagi ke mana langkah ini akan saya bawa selepas SMA. Sejak saat itu, saya petik pelajaran bahwa jika memiliki rencana, harus disertai dengan rencana lain sebagai cadangan. Ini untuk mengantisipasi agar jika rencana utama tidak terealisasi, saya bisa menjalankan rencana lain.

Mulai saat itu, saya berusaha keras memikirkan jalan keluarnya. Hidup terus berjalan dan saya tidak boleh tinggal diam.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di sebuah kafe. Saat itu saya ditempatkan sebagai kasir. Rasa iri selalu terselip di hati jika melihat para pahasiswa yang sibuk belajar. Namun saya berusaha menyadari. Inilah jalan hidup saya.

Sama seperti saat belajar, saya juga bekerja dengan tekun. Semua peraturan perusahaan saya taati. Semua yang menjadi tanggung jawab, saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun.

Perjalanan saya meniti pekerjaan tidak selalu mudah. Banyak juga batu-batu kerikil yang membuat saya tersandung. Namun semuanya saya lalui dengan hati-hati. Bertahun-tahun menekuni pekerjaan, akhirnya saya menjadi supervisor, kemudian diangkat menjadi sekretaris di kantor pusat.

Saya tercengang dan hampir tak percaya. Saya yang “hanya” lulusan SMA bisa dipercaya untuk masuk kantor pusat? Mengapa saya? Bukankah masih banyak karyawan lain yang berlatar belakang pendidikan tinggi?

Akhirnya saya menyadari. Inilah karir saya. Sebagai pekerja kantor. Bukan sebagai dokter seperti yang saya impikan bertahun-tahun silam.

Dulu, saya tak pernah terpikir untuk menjadi pekerja kantor. Jangankan terpikir, terbayang saja sama sekali tidak pernah. Dan sekarang, saya bahagia menjalaninya. Apalagi sekarang saya merasa tidak sanggup melihat rumah sakit karena belum lama ini Ibu sering bolak-balik rawat inap karena penyakitnya, hingga akhirnya meninggal.

Bagaimana kalau dulu saya menjadi dokter? Bukan tidak mungkin saya akan meratap setiap hari di tempat kerja (rumah sakit) karena teringat masa-masa merawat Ibu.

Bukan hanya menjadi pekerja kantor, saat ini saya juga sedang menjalankan hari-hari sebagai penulis. Awalnya hanya hobi. Namun setelah saya tekuni dengan sungguh-sungguh selama tiga tahun, saya mulai kewalahan menerima pesanan naskah dari penerbit. Benar-benar jauh dari dunia kedokteran, tapi ini membuat saya bahagia.

Saya semakin sering merenung. Ternyata, tidak bisa mencapai cita-cita bukan berarti tak bisa memiliki karir. Satu yang kini saya yakini, Tuhan benar-benar tahu apa yang terbaik buat hambanya.

Mata saya semakin terbuka. Bagi saya, karir adalah apa yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh sesuatu yang telah dihidangkan Sang Pencipta untuk kita, tanpa pernah kenal lelah. Karir itu sudah ada di depan mata. Tinggal kita meraihnya, lalu menjalaninya dengan sepenuh hati. Apapun bentuknya, lambat laun kita akan mencintai karir itu. Bahkan kita bisa mengukir prestasi, lalu sukses menjadi bintang.

Share this post :

There are 2 comments .

b4yu —

sangat sangat….. menginspirasiku untuk selalu semangat dan tidak putus asa….

Reply »
Fican —

makasih buat catatan nya..

Reply »

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.