Komunikasi yang Payah

oleh | 27 December 2010 | 0 Komentar

7 HABIT FOR EFFECTIVE PEOPLE ini sebenarnya buku yang lawas, alias ngga baru baru banget.

Tapi, entah kenapa, aku suka buku yang ditulis Stephen R Covey ini. Praktis, dan kena dengan kegiatan hidup sehari hari.

Salah satu bagian dari 7 HABIT adalah perihal Empathic Listening.

Empati sama sekali berbeda dengan Simpati. Bersimpati menurutku hanya sekedar dibibir. “Ya ampun kasian banget lo ya? Semoga la cepat sehat ya….” .

Ciri cirinya: kalimatnya sangat normatif dan biasanya disertai doa doa yang juga pasaran.

Ciri lain, mereka akan cepat membalikan topik pembicaraan ke tema lain, yang biasanya lebih berat bobot “aku”nya. Dan pada akhirnya, masalah yang sebenarnya INGIN dishare, tersapu cerita lain.

Gesturenya pun bernuansa ignorance. Simpati-san, seperti ?sibuk’ sendiri. Bisa lewat gerakan tangan, arah pandangan, atau apa saja. Terkadang ia cengar cengir, karena sedang memikirkan hal lain.

EMPATI-san, adalah sebaliknya. Empati berarti menjadikan lawan bicara sebagai fokus perhatian. Kau masuk dalam pikirannya, sampai akhirnya kau bisa “merefleksikan” kalimat yang terucap, dengan kata katamu sendiri. “Jadi kau merasa tidak didengar..?” “Jadi kamu malas kerja karena suka merasa dilecehkan?” dst

Tidak perlu panjang, apalagi disertai harapan harapan, doa doa, yang justru secara tidak langsung hendak men-STOP lawan bicara untuk terus bercerita. (Ingat dalam percakapan wishes dan prays kan memang selalu diletakkan di AKHIR pembicaraan)

Sebenarnya kunci keberhasilan suatu komunikasi bukan pada pemilihan kata kata. Karena riset membuktikan, dalam sebuah komunikasi CONTENT/WORD hanya berbobot 10%, lalu INTONASI 30%, dan GESTURE 60%. Intonasi yang lembut, dengan usapan pelan dipundak JAUH lebih memberi rasa aman, dibanding harapan harapan, kata kata bijak dan doa panjang lebar.

*

Sekarang, coba kita perhatikan bagaimana ?Orang Sekarang’ berkomunikasi.

Via Blackberry Messanger (BBM), Chat Box (YM,MSN,etc), Pesan Pendek (SMS), atau E-mail.

Dan, parahnya, komunikasi virtual ini dipakai orang BAHKAN untuk membicarakan hal hal sensitiP atau ?menyangkut FEELING’ . Sebut saja, keputusan cerai, putus dari pacar, konfirmasi perselingkuhan, bertengkar, soal gaji, dan seterusnya……

PAYAH!

Taukah Anda, kalimat sederhana seperti: “Jadi km maunya apa?” yang dikirim via BBM/CHAT/SMS bisa bermakna GANDA. Bisa hendak ngajak berantem, atau sebaliknya berdamai (mengalah).

Dan aku sungguh sungguh ngga ngerti ketika seorang teman (dekat) memilih BBM-an aja, dibanding bertemu untuk menyelesaikan sebuah masalah pelik, diantara kami. Pikirku, “ini orang pelit ongkos, atau memang tidak menghargai arti komunikasi??”

Dengan kemajuan per-GEJET-an yang luar biasa, memang kualitas komunikasi antar manusia perlahan mulai merosot. Efektifitasnya HANYA 10%, karena sekedar menitikberatkan pada PEMILIHAN KATA (plus icon icon emoticon yang sudah mulai basi itu), tapi ALPA pada hal INTONASI dan GESTURE. Bahkan percakapan via telepon pun tidak akan cukup (cuma efektif 40%) , untuk menyelesaikan masalah penting seperti diatas tadi.

Makanya jangan terlalu bingung kalau sekarang banyak orang cerai, selingkuh, putus nyambung………

Blame (part of) it on GADGET 😀

****

(by Febby S.)

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2019 Konsultan Karir. All rights reserved.