Positip Saikoloji

oleh | 16 December 2010 | 0 Komentar

Ini salah satu yang kusuka dari tempatku bekerja sekarang: Rajin mengirimku Training!

Dan inilah cerita dari training yang terakhir ku ikuti, pekan lalu selama 2 hari.

*

Sebulan lalu, seorang yang penting, dengan emosi yang tinggi berkata padaku: “Ngga ada satupun lagi yang bagus yang kulakukan, bisa kau lihat.”

Tiga minggu berselang, kali ini dengan penuh keputusasaan, gantian aku yang berkata: “Semua yang kulakukan salah.

Kurasa itulah kelebihan ?kekurangan’; dia nyaris selalu berhasil membutakan manusia. Satu kekurangan (hampir) selalu berhasil menutupi sebanyak banyaknya kebaikan.

Yang seperti ini bukan cuma ada dalam konteks relasi pribadi, tapi juga keluarga dan kantor.

Dalam sesi curhat dengan mahasiswa/i, aku ingat jelas ada satu anak dengan gemas berkata: “yah, …ibu saya mah, kayanya ngga bisa nemuin yang bagus dari saya. Lha wong saya ngga lagi ngapa-ngapain aja disalah salahinnn.

Kalau dikantor, kebiasaan ?menutupi prestasi, menggarisbawahi kekurangan‘ ini pasti jamak ditemukan pada perusahaan dengan culture pelit. Yang hobi-nya me-retain profit semaksimal mungkin untuk menjadi bonus tahunan para bos. Di perusahaan seperti ini biasanya sesi evaluasi sering diakhiri dengan keinginan kuat karyawan untuk pindah kerja.

Frustasi!

Yep! Ketika pihak lain melulu menggada-gadakan sesuatu yang ?kurang’ pada dirimu, kau akan frustasi. Dan berada dalam lingkungan yang menganggapmu ?biasa biasa saja’ justru pada akhirnya membuatmu jadi ?tak ada apa-apanya’.

*

Martin Seligman, kurasa berpikiran yang sama, sehingga akhirnya menelurkan “Positive Psychology” sekitar dua belas tahun silam. Psikologi Positif mempelajari tentang kekuatan dan kebajikan yang bisa membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi berhasil dan bahagia. Ilmu Psikologi yang satu ini fokus pada upaya mengetahui kekuatan utama seseorang, dan lantas memperkuatnya: Strengthen the strength. Ini berbeda dengan mashab yang selama ini kita kenal: menemukan kelemahan, untuk kemudian diperbaiki; karena kelemahan itu, katanya, adalah opportunity yang belum tergali. Dari sini kemudian berkembang istilah SWOT itu.

Seligman pun mengembangkan sebuah “tools”, questionnaire tepatnya, yang akan membantu menemukan “24 urutan karakter terkuat kita.” (www.authentichappines.sas.upenn.edu)

LIMA karakter teratas adalah karakter terkuatmu! Focus on strengthening that strength, rather than crying on your weakness.

Kurasa aku mendukung Seligman!

*

Salah dua yang kusuka dari tempatku bekerja sekarang: Bos ku.

Di hari evaluasi, awal tahun ini,Pak Bos memanggilku.

Saya dengar kamu suka ilang dari kantor. Kalau dicari suka ilang lagi..ilang lagi. Kamu kemana,”katanya.

Saya bukan ilang Pak. Saya ijin, buat ngajar,”jawabku siap siap disemprot.

Dan, aku salah.

Ngajar? Dimana? Ngajar apa?….”Pak Bos bertanya bertubi-tubi. Antusias.

Dan Panjang Lebar Luas, kujelaskan padanya tentang passionku mengajar, yang harus curi curi waktu ku salurkan itu.

Luar biasa. Bukannya mulai hitung menghitung kerugian kantor karena aku rajin ijin, Pak Bos mulai menggaris bawahi satu persatu kelebihanku, selama 5 tahun aku bekerja padanya. Termasuk bakatku untuk mengajar dan berbicara didepan orang banyak. Dan pada akhirnya ia malah memfasilitasi hasratku mengajar, dikantor.

Martin Seligman bisa jadi cerdas, tapi Pak Bos hari itu membuatku menganga akan kebijakan dan tindakan positifnya. Dia tidak fokus pada kekuranganku sebagai karyawan, padahal bukti absensi sudah ada didepan matanya. Instead, dia membantu aku menemukan kekuatanku.

Dan efeknya luar biasa. Responnya yang positif membangkitkan motivasi positif juga padaku.

*

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2019 Konsultan Karir. All rights reserved.