Dari Memaki-maki Penulis, Ditolak, hingga Keterima (Akhirnyaaa)

oleh | 28 December 2009 | 8 Komentar

oleh: Nurul Hikmah

Pemenang Harapan – Share Your Career Story

“Kok, mau-maunya ngambil jurusan itu?” Mungkin, kata-kata itu yang diungkapkan oleh banyak orang ketika saya memilih Sastra Indonesia di perguruan tinggi. Yang masuk sana mungkin bisa dihitung dengan jari. Bahkan, angkatan saya yang tersisa hanya 19 orang, itu pun belum tentu hadir semua. Memang, bukan jurusan populer dan masa depan tidak akan secerah mahasiswa lulusan kedokteran, teknik, atau ekonomi. Namun, saya mengambil jurusan itu, seolah-olah menantang anggapan banyak orang tadi, karena bahasa pasti digunakan banyak orang dan tentunya akan terus digunakan selama negara ini masih bernama Indonesia. Setidaknya, bakal bisa kepake di mana-mana, kan orang kalau ngomong berbahasa. Itu pikir saya.

Selama saya kuliah, saya sudah kepikiran untuk berkarier sebagai apa nantinya. Pikiran itu saya prediksi dari senior-senior saya ketika saya ikut inisiasi. Rata-rata dari mereka berkecimpungan dalam surat kabar, entah jadi wartawan atau editor bahasa. Karena selalu disuguhkan oleh hal-hal seperti itu dan kekaguman saya dengan orang-orang yang bekerja di media, saya pun berharap bisa menjadi bagian dari media. Kebetulan, di dekat rumah, ada sebuah surat kabar yang cukup besar dan ternama. Nah, saya sempat membayangkan dan berdoa bahwa saya akan bekerja di sana sambil kuliah. Kuliah pagi, malamnya kerja. Begitulah tugas editor bahasa yang mengedit bahasa surat kabar. Jika saya dan teman-teman sedang ngumpul bareng dan ngobrol akan bekerja di mana setelah lulus kuliah, saya selalu berkata, “Koran X.” Lalu, teman saya bertanya, “Kenapa?” Saya jawab, “Karena dekat rumah.” Alasan yang simpel dan membuat saya cengengesan. Selanjutnya, kalau kami ngobrol-ngobrol lagi tentang masalah pekerjaan, teman saya pasti sudah tahu bahwa saya akan bekerja di Koran X dengan alasan dekat rumah.

Namanya juga doa: kadang dikabulin, kadang belum dikabulin, atau kadang diberi yang terbaik. Begitu juga doa saya. Pekerjaan impian, yang sudah saya gembar-gemborkan hingga teman saya hafal saya mau bekerja di mana, belum kunjung tiba. Saya menyambi sana-sini.

Saya pun freelance di penerbit buku nasional, spesialisasi buku pelajaran. Di sini, honornya lumayan untuk tidak mengandalkan ongkos orang tua. Apalagi di sini ada teman saya. Jadi, saya cukup nyaman bertemu dengan orang-orang walau kantornya itu jauh banget dari rumah saya. Awalnya, saya diminta hanya mengoreksi buku, yaitu hanya melihat ejaan dan susunan kalimatnya. Lama-lama, saya diminta mengedit buku, yaitu harus ada perbaikan dan penyesuaian kurikulum, gambar yang sesuai, warna, dan segala macamnya hingga terbit menjadi buku. Honornya kala itu lumayan untuk freelance yang sedang mencari pekerjaan tetap. Namun, yang paling mengesalkan adalah ketika saya harus menjadi penulis dengan honor korektor freelance. Jadi, ketika buku-buku utama sudah terbit, pihak penerbit meminta saya menulis buku kegiatan (LKS) yang mendukung buku utama itu. Ke mana si penulis buku utama? Bukankah seharusnya buku kegiatan juga tanggung jawabnya dia? Alasannya sih kalau menghubungi penulisnya, naskahnya bakal lama selesai, padahal buku kegiatan itu harus masuk cetak. Karena semangat bekerja masih tinggi dan butuh uang, saya pun menerima permintaan itu. Hitung-hitung mencari pengalaman walau dalam hati memaki-maki si penulis. Pernah si penulisnya datang ke kantor penerbit dengan santainya, seolah-olah nggak ada apa-apa dan nggak ada utang buku yang belum selesai. Editor yang beneran malah mirip bawahan yang melapor ke atasan. Sejak saat itu, setiap melihat nama si penulis ini di sebuah buku yang saya temui di toko buku, saya langsung sebel. Karena, orang yang cukup terpandang di kalangan pendidikan itu ternyata memanfaatkan otak orang lain dengan alasan sibuk hingga tak sanggup menyelesaikan buku yang seharusnya dia selesaikan. Dia hanya numpang nama dan mendapat royalti, sedangkan saya dan beberapa teman yang mengerjakannya harus mati-matian mencari data supaya bisa menjadi buku tepat di saat deadline.

Selesai di sana, saya melanjutkan kuliah pascasarjana. Freelance sebagai editor bahasa juga masih berjalan. Namun, saya juga ikut-ikutan teman saya yang menulis buku pelajaran. Honornya juga lumayan walau saya tidak mendapatkan royalti. Setidaknya, nama saya diakui meski ditulis sebagai tim penulis. Tidak hanya itu, saya juga wawancara sana sini. Saya pernah frustasi ketika wawancara di majalah wanita ternama. Di situ saya ditolak mentah-mentah karena saya akan melanjutkan kuliah. Yang kedua, wawancara dan penerimaan pegawai yang bertahap-tahap di sebuah penerbitan, tetapi malah dibayar di bawah UMR DKI Jakarta. Membuat saya merasa sedih karena tak dihargai. Padahal, perjalanan ke tempat wawancara aja butuh waktu berjam-jam.

Pada semester pertama, tiba-tiba ayah saya menyodorkan guntingan Koran X. Di situ tertulis ada lowongan editor bahasa yang sudah bertahun-tahun saya incar. Wow…sejak saya kuliah dulu, lulus, freelance, kemudian kuliah lagi, baru melihat lowongan editor bahasa di surat kabar ini. Biasanya, yang selalu dibuka cuma lowongan buat reporter, bahkan saya sampai hafal bulan-bulan apa aja surat kabar ini buka lowongan. Dengan semangat, saya langsung cengar-cemgir. Kata ayah saya, “Coba, rul. Cocok tuh, kan pagi kuliah, malemnya kerja.” Saya pun segera mendaftar.

Saya dipanggil wawancara beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika saya mau memilih jadwal kuliah semester kedua. Wawancaranya membuat frustasi. Di samping mirip sidang (karena setiap peserta ditanya dalam ruangan selama satu jam), saya capek nunggu karena laper dan tegang. Keluar dari ruang ?sidang’, saya nggak yakin dengan jawaban saya, apalagi saya memperkenalkan diri bahwa saya sedang melanjutkan kuliah. Bayang-bayang nggak lolos sudah ada di depan mata. Dua minggu berselang, saya dipanggil lagi untuk psikotest dan wawancara kedua. Jawaban tahap ini juga semakin membuat saya tidak yakin untuk diterima. Jika diterima, itu pun tak mungkin karena saya masih kuliah. Saat itu saya pasrah, “Kalau diterima syukur, kalau nggak diterima juga gak apa-apa. Toh, saya juga masih kuliah. Biasanya perusahaan nggak mau pegawai barunya sedang lanjut pendidikan.” Eh, saya malah ditelepon pihak SDM-nya. Untungnya, saya sedang berada dalam taksi. Kalau saya dalam bus, saya mungkin nggak akan dengar ada telepon masuk karena bus yang bakal saya tumpangi penuh. Mungkin, ini yang dinamakan jodoh.

Karena status saya kuliah, saya pun diposisikan sebagai freelance. Kemudian, setelah selesai kuliah, saya baru diangkat menjadi pegawai kontrak. Posisi saya saat itu adalah calon staf editor bahasa.

Jujur, saya senang dengan pekerjaan saya karena memang cocok dengan bidang saya. Lagi pula, bos saya juga baik dan membantu saya jika saya menemukan kesulitan. Ia sering memberikan kepercayaan kepada saya untuk memegang naskah utama, bahkan saya sempat memegang satu sumplemen koran sendirian, tanpa dibantu teman-teman saya yang lain. Saya juga sering menjadi editor ?sendirian’ karena tak satu pun teman atau bos saya yang masuk pada suatu hari.

Alasan lain saya bekerja di media adalah saya menjadi tahu bagaimana proses pembuatan berita dan melihat praktiknya berdasarkan teori-teori yang pernah saya pelajari di kuliah pascasarjana. Lingkungan kerja juga menyenangkan. Walau redaksinya kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu, boleh dikata baik-baik semua. Suka bercanda dan melucu. Tidak seserius atau sealim yang saya bayangkan. Ketika rapat penentuan berita pun, mereka suka bercanda. Apalagi, kalau sedang ada makanan, pasti semua yang ada di redaksi langsung mengerubuti dan berebutan. Nggak akan terlihat jaim, padahal udah bapak-bapak atau ibu-ibu.

Saya sempat dijuluki ratu facebook oleh beberapa orang redaksi karena hanya saya yang aktif main facebook. Pada saat itu, facebook belum populer dan hanya beberapa redaksi yang punya account-nya, itu pun tidak seaktif saya. Pejabat redaksi juga sempat konsultasi ke saya perihal facebook. Yang masih friendster segera beralih ke facebook. Ramailah dunia redaksi dengan facebook. Hingga, facebook harus dilarang dibuka saat jam kerja kantor karena jaringan menjadi lambat. Ketika aturan ini berlaku pertama kali, saya takut banget karena bakalan ada SP kalau nekat main facebook. Lama-lama, yang buat peraturan kayaknya lupa, jadi saya dan banyak orang yang ada di redaksi tetap buka facebook saat jam kantor. Ada seorang redaksi bertanya ke teman redaksinya yang lain, “Lagi nulis apa?” Yang ditanya cengar-cengir. Yang bertanya malah berkata, “Oh, nulis status facebook. Bukannya nulis berita, malah status facebook.” Yang lain pun tertawa. Hal-hal konyol seperti itu sering terjadi. Bahkan, komentar-komentar atau celotehan-celotehan dari para redaksi juga terkadang membuat saya ketawa karena lucu. Suasana kerja seperti ini yang menurut saya menyenangkan dibanding beberapa kantor yang pernah saya datangi. Lagi pula, di sini, saya bisa memakai T-Shirt dan sandal gunung, bahkan saya pernah memakai sandal jepit beberapa kali. Hahahaha.

Dalam perjalanan karier saya ini, saya sangat percaya dengan kekuatan doa. Mungkin, jalan untuk terkabulnya doa itu tidak seperti yang kita mau dan berbeda-beda. Misalnya, sebelum saya bekerja di Koran X, saya sempat freelance dan wawancara di mana-mana. Karena memang bukan saatnya, ada aja halangan yang membuat saya tidak diterima. Saya sempat putus asa ketika saya ditolak oleh sebuah perusahaan majalah karena jawaban, “Saya mau melanjutkan kuliah.” Namun, jalan-jalan itu yang membuat doa saya terkabul beberapa tahun kemudian. Saya sempat berpikir, mungkin Tuhan menunda dulu karena mencari waktu yang tepat dan terbaik buat saya. Makanya, saya bersyukur banget dengan semua ini. Thanks God.

Share this post :

There are 8 comments .

nanang haroni —

selamat nurul. keren. jangan berhenti menulis.

Reply »
Rosmina Zuchri

ass. Nurul. Sy punya anak namanya Talitha Sabrina. dulu dia keterima di jurusan akutansi Unsri. di Palembang. di UGM tidak keterima. di Unpad tidak keterima juga. dia mau ambil jurusan komunikasi.
akhirnya sy bilang ambil hukum saja krn Komunikasi msh dekat2 dgn jurusan Hukum. masih hapalan2 dan pemahaman2. kalo kamu ambil Akutansi kamu pasti tidak mampu di Akutansi kamu lulus test itu kebetulan saja. jadi ambil saja Fak Hukum… Akhirnya dia masuk Fak Hukum Unpar Bandung krn ada anakku yg no. I kuliah di ITB.
Bener perkiraan saya …… semester I di Unpar dia sdh menjadi Editor majalah kampus dan skrng semester 5 sdh jd Pemimpin Redaksi. ternyata Hobby nya tersalurkan di tempat kuliahnya.
Sekarang sy katakan lagi padanya . coba dech… cari2 kerja di koran atau majalah di Bandung ini. sambil kuliah. Mudah2an dia mendengarnya perkataan sy ini dan dapat terwujud. sy berdoa saja pekerjaan apa yg akan dipilihnya yg sesuai dengan bakat dan minat dan kemampuannya.
Inilah… Nurul cerita saya ttng anak sy Talitha Sabrina umur 19 tahun. semoga . pengalaman dan perjuangan mu dapat sy ceritakan pada Talitaha agar dia dapat mengambil Hikmahnya.

Sucses ya buatmu Nurul.
Wassalam
Rosmina Zuchri (Rossy)

Reply »
ibunya imam —

wah nurul saya jadi kangeeeen banget ama suasana redaksi. rutinitas menulis berita yang tak pernah menjemukan karena ditingkahi guyonan temen-temen.

Reply »
nurul —

Wuah, ternyata banyak komentar hehehe 😉

@Mas Nanang: makasih atas motivasinya, insya Allah masih dilanjutkan.

@Ibu Rossy: Senang deh baca cerita tentang anak Ibu. Sudah diperlihatkan bakatnya sejak masih kuliah. Saya sendiri masih bingung dengan bakat saya apa. Hehehe. Semoga menjadi seperti yang dicita-citakan, ya, Bu. Kalo sudah aktif masih kuliah, insya Allah sih lancar pas di dunia kerja ;).

@Ibunya Imam: Emang, yang lucu adalah guyonan-guyonan itu, apalagi kalau deadline, pasti deh suasananya campur aduk. hehehe.

Reply »
nurul —

Wuah, ternyata banyak komentar 😉

@Mas Nanang: makasih atas motivasinya, insya Allah masih dilanjutkan.

@Ibu Rossy: Senang deh baca cerita tentang anak Ibu. Sudah diperlihatkan bakatnya sejak masih kuliah. Saya sendiri masih bingung dengan bakat saya apa. Hehehe. Semoga menjadi seperti yang dicita-citakan, ya, Bu. Kalo sudah aktif masih kuliah, insya Allah sih lancar pas di dunia kerja ;).

@Ibunya Imam: Emang, yang lucu adalah guyonan-guyonan itu, apalagi kalau deadline, pasti deh suasananya campur aduk. hehehe.

Reply »
miyosi

salam kenal mbak,

hebat

😀

Reply »
nurbaiti —

Salam kenal mbak Nurul… 🙂
Saya nurbaiti, alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNJ. Hari ini saya mendapat telepon panggilan untuk wawancara besok di salah satu harian umum terkenal di Jakarta dengan posisi sebagai penyunting/editor bahasa. Bolehkah saya meminta sedikit tips atau “bocoran” mengenai wawancara tersebut?
Saya sangat berminat pada bidang penyuntingan dan berharap dapat diterima menjadi editor tetap pada harian umum tersebut. Amin…. ^____^

Reply »
nurul —

@miyosi: salam kenal juga, mbak..

@nurbaiti: salam kenal juga, mbak…Setelah lihat tanggalnya, ternyata mepet banget yak. Hehehe. Moga sempet dibaca ya… Sebenarnya kalo tips kayaknya sama dengan wawancara kerja biasa. Yang pasti kita harus pede dengan diri dan kemampuan kita. Tunjukin aja komitmen dengan perusahaan yang bakal jadi tempat kita kerja, terutama waktu. Apalagi harian umum yang deadline-nya sangat ketat. Yang jelas, edit-mengedit harus dikuasai ya.

Sukses yaaa wawancaranya. Kabar-kabarin lagi tentang wawancaranya yaaa 🙂

Reply »

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.