Seni menstimulasi ide

oleh | 26 March 2012 | 0 Komentar

Judul : The Art of Stimulating Idea
Penulis : Bambang Trim
Penerbit : Metagraf, Creative Imprint Tiga Serangkai
Tahun : 2011
Halaman : 198 + x
Harga : Rp.44.000,-
Peresensi : Ardiningtiyas Pitaloka

Buku imut ini seperti panah yang halus bagi para penulis yang masih berangan-angan untuk memiliki buku sendiri. Bagi pembaca yang aktif mengikuti komunitas penulisan maupun yang memperhatikan dunia penulisan, tentu nama Bambang Trim tidak lagi asing. Awalnya saya kira, buku ini seperti buku How to yang terkadang renyah, terkadang justru melayang karena terlampau ringan. Akan tetapi, penulis mengetengahkan realitas beserta solusi yang beragam, termasuk terbuka untuk alternative lainnya. Tentu saja hal ini karena lika-lliku penulis yang pernah menjadi editor hingga sekarang memproklamirkan diri sebagai komporis buku Indonesia, alias tukang kompor atau pengobar semangat.

Kalimat ?Jurus mendulang IDE dan Insaf agar kaya di jalan menulis? yang tercetak di cover tepat di bawah judul utama inilah yang membuat saya berprasangka buku ini lebih menawarkan jalan cepat, instan atau shortcut. Harus saya akui, saya sangat lega karena tidak terbukti sama sekali. Penulis menunjukkan penghargaan tinggi terhadap proses, yang salah satunya ditunjukkan dengan kritik cantik berikut: ?Banyak pertanyaan yang diajukan oleh calon penulis, terutama yang ingin mengejar keuntungan financial:Buku apa yang pantas diterbitkan saat ini? Atau lebih gamblang: Buku apa yang laku saat ini?? (hal.83).

?Ide bukan sebuah pencarian, melainkan sebuah penemuan.? (hal.8), demikian penulis mengingatkan pembaca. Kalimat singkat ini menyentil kita yang sering beralasan kehabisan ide. Apakah kemudian memang hanya alasan atau merupakan kenyataan? Pada halaman 50, Anda akan menemukan bahwa ide sebetulnya tidak pernah habis, melainkan penulis kehilangan kemampuan menghimpun ide. Hal ini sangat mungkin terjadi pada penulis professional juga penerbit, sehingga terjadilah karya monoton. Untuk itu, waktu jeda menjadi penting untuk memulihkan pikiran dan menyegarkan gagasan.

Argumentasi lain yang menarik adalah tidak adanya ide orisinalitas, tetapi ide yang segar. Hal ini karena sulitnya membuktikan orisinalitas ide sehingga menurut penulis tak kan mungkin teraih. Anda bisa saja menolak argumentasi ini, namun coba kita simak karya fenomenal J.K.Rowling tidak lepas dari dongeng dan cerita rakyat yang melatari budaya Eropa. J.K.Rowling tentu telah akrab dengan cerita penyihir, sekolah asrama dan makhluk-makhluk yang menakjubkan seperti centaurus. Saya kira pernyataan tidak ada ide orisinil melainkan ide segar merupakan pengakuan yang ksatria.

Ide tidak dapat dicari namun kita dapat menstimulus dengan mengembangkan kepekaan diri terhadap kehidupan sekitar, melalui banyak membaca, banyak berjalan-jalan, dan banyak berinteraksi (silaturahmi). Menurut penulis, seorang penulis seharusnya melakukan aktivitas ini lebih banyak dari rata-rata orang membaca, berjalan-jalan dan berinteraksi. Proses inilah yang akan mengundang ide datang dengan deras (hal.38-41). Bagaimana selanjutnya mengeksekusi ide? Mengikat dan mengendapkan. Hal ini karena ide seperti jelangkung yang datang tanpa diundang dan pergi tidak diantar (hal.68), maka kita memerlukan instrument untuk menangkapnya. Bekali diri selalu dengan catatan kecil, pena maupun gadget canggih untuk kemudian biarkan ide itu mengendap. Setelah itu, Anda pun menjadi seorang koki yang siap meramu ide (bahan dasar) menjadi tulisan.

Seperti saya kemukakan di awal resensi ini, penulis menyajikan solusi berupa strategi dalam menikmati proses menjadi seorang penulis. Satu tema yang kemungkinan akan membuat mata pembaca bersinar adalah bagian ?Memasarkan Ide? (hal.120). Penulis secara gamblang menyajikan format yang dapat diikuti atau dikembangkan calon penulis untuk mengajukan proposal pada penerbit yang terdiri dari: judul tentative, anak judul, profil penulis, ringkasan naskah (kategori,estimasi total halaman, pembaca sasaran), keunggulan naskah (fitur khusus), buku pembanding, live time periode, prelims, poslims.

Terlepas dari isi yang menarik, informative, juga komporitif (seperti tekad penulis sebagai tukang kompor penulis Indonesia), beberapa ilustrasi buku ini akan lebih menarik jika disajikan dalam bentuk kartun. Hal ini karena ilustrasi foto yang menggambarkan aktivitas penulis kurang terlihat jelas dan secara dekoratif justru mengganggu keasyikan pembaca menikmati kalimat sederhana yang profokatif. Selain itu, sepertinya stimulus pada cover depan tentang menjadi kaya agak mengaburkan isi buku ini. Walaupun kalimat tersebut menjadi salah satu pemantik penjualan buku, namun akan lebih tepat dengan kalimat lain yang lebih menggambarkan menariknya proses menjadi penulis professional. Hal ini karena masih beredarnya semangat menulis apa pun atau menulis yang akan laku. Saya melihat semangat buku ini justru sebaliknya, yakni: tulislah apa yang menjadi minat dan komitmenlah. Buku ini berbeda dari buku-buku yang menyajikan langkah-langkah pragmatis, namun tetap tampil renyah dengan bumbu yang sehat, tanpa pengawet berbahaya.

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.