Melihat Departemen SDM Lebih Dekat

oleh | 17 March 2010 | 1 Komentar

Judul buku : Mengapa Departemen SDM Dibenci?
Penulis : Steve Sudjatmiko
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2009
Harga : Rp. 40.000.00
Peresensi : Ardiningtiyas Pitaloka

Pertama kali membaca judul buku ini ?Mengapa Departemen SDM Dibenci?? menarik tanda tanya yang cukup besar, ?Masa sih?…? Seakan cakar-cakar pertahanan diri mulai menampakkan ujungnya. Mungkin karena banyak aktivitas saya terkait dengan dunia SDM selama ini. Judul buku ini memang sangat ?seksi?, mampu membuat pelaku-pelaku di dunia SDM mengkerutkan keningnya. Pelaku di sini termasuk mereka yang berkecimpung sebagai Konsultan SDM yang bekerjasama dengan Departemen SDM internal perusahaan.

Jika penulis buku menanyakan departemen ini, saya dan beberapa rekan SDM mempertanyakan kata?dibenci?? Tanggung jawab orang di departemen ini mengesankan tugas ?hakim? dan ?dewa?. Bahkan sedikit yang mengetahui bahwa tugas departemen ini adalah memberikan rekomendasi setelah melalui pengukuran terstruktur. Sekali lagi ini merupakan pertahanan diri yang terlontar dalam obrolan antar pelaku SDM.

Namun keheranan saya langsung dijawab Penulis dalam bab 1: ?Benarkah Departemen SDM Dibenci?? Sudjatmiko mengingatkan kembali posisi unik departemen ini mulai sebagai jembatan, pintu masuk, penyaring, polisi-jaksa-hakim, sahabat karyawan dan gerbang terakhir. ?Tidak ada departemen lain yang memiliki posisi seperti ini. Bila ada SDM yang tidak melakukan peran jembatan ini, mereka menyia-nyiakan kelebihan dahsyat departemen ini? (h.23)

Uniknya, Sudjatmiko kemudian segera menyertakan cerita-cerita kecil hasil wawancara yang tidak menyenangkan dengan departemen SDM di bab.2. ?Pengalaman Buruk dengan SDM?. Semua nama tentu telah disamarkan, di antaranya Charlo, seorang Kepala Departemen, ?Saya rasa tugas mereka yang terpenting adalah melayani departemen lain tentang kebutuhan SDM, mulai dari merekrut karyawan. Tapi kenapa sulit sekali ya? Semua permintaan saya tentang karyawan kok lama sekali?? (h.26). Komentar ini ditampilkan dengan menarik berupa gambar wajah mirip tokoh ayah Bart Simpson dan kotak dialog di sampingnya.

Lalu apa sebenarnya yang membuat pegawai jengkel dengan departemen ini? Sudjatmiko mengajukan delapan alasan dengan lugas. Delapan alasan ini adalah; (1) SDM kurang mengerti bisnis inti perusahaan; (2) SDM tidak memiliki tujuan dan hasil yang jelas; (3) SDM tidak menguasai pekerjaan inti SDM; (4) Proses SDM berbelit-belit; (5) Ketidakpedulian SDM dengan karyawan; (6) SDM tidak adil; (7) SDM sok kuasa; (8) SDM berpolitik (h.33-69).

Jika di bab.2 departemen ini yang menjadi ?bahan gosip?, di bab.4, Penulis membeberkan pengalaman buruk yang dialami departemen SDM. Tidak seperti ?curhat? pegawai yang kesal pada departemen SDM melalui karikatur dan kotak dialog. Cerita karyawan SDM tampil dengan paragraf biasa, namun tetap menarik, misal komentar Wawan, ?Kita minta karyawan sensus lagi, demi mereka juga, mereka bersungut-sungut. Kita minta data sudah pernah training apa aja, nggak ngasih. Kita tanya pendapat mereka tentang apa aja lewat e-mail, selalu dikit banget yang masukin jawaban. Coba bicara libur, hadiah, wah… nggak usah ditanya juga ngirim pendapat macem-macem,? (h.76).

Saya mulai tersenyum geli, dan saya juga yakin rekan-rekan yang berkutat dengan dunia SDM mulai merasa lega…

Sementara, Penulis tidak begitu saja membiarkan pembacanya berhenti pada senyum lega atau bersungut-sungut. Ia segera membahas pemahaman tentang departemen ini dan kembali mengajukan lima alasan yang tidak tepat untuk membenci SDM. Kekeliruan yang bersumber dari minimnya informasi karyawan tentang tugas dan beban SDM menjadi alasan pertama. Selain itu, anggapan bahwa SDM sebagai pembawa kabar buruk, kambing hitam, satpam bagi karyawan lain dan tingginya keluar-masuk karyawan yang dianggap sebagai kesalahan SDM. Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar itu?

?Adakalanya proses meminta training begitu rumit, bahkan setelah sampai di tingkat direktur sekalipun tidak ada yang berani menandatangani sehingga departemen SDM akhirnya menyerah dan tidak melakukan training apaun.? (h.103). Adalah satu gambaran dilema yang menjadi makanan utama departemen ini.

Menutup buku ini, Sudjatmiko yang juga berpengalaman di departemen SDM memaparkan pemikiran agar SDM dihargai. Bagaimana agar departemen ini dapat diandalkan, menjadi contoh, peduli pada karyawan, mengerti bisnis, mampu menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, mampu membangkitkan potensi karyawan dan sebagai agen perubahan. Penulis juga menyertakan contoh Job Description Manager HR meliputi key performance indicator, tanggung jawab, hingga kompetensi terpenting (h.147 ? 149).

Dunia SDM kini sedang bergerak menjadi Human Capital, tidak lagi sekedar Human Resources. Buku ini memberi perspektif praktis didukung dengan pengalaman Penulis sebagai praktisi SDM. Penambahan pembahasan tentang perusahaan menurut saya akan memberikan perspektif lebih luas sebagai bangunan utama tempat departemen SDM dan karyawan non SDM berada. Masukan lain untuk Penulis buku (bisa juga bagi yang sedang berniat membuat buku tema serupa) adalah perbandingan antara perusahaan yang telah mengoptimalkan departemen SDM sebagai partner strategis dan yang masih menempatkan di area administrasi SDM saja.

Untuk pembaca, masihkah Anda kesal dengan departemen SDM?

Share this post :

There is 1 comment .

dwee aja —

pak.,,, sya sdh mncari buku ini di gramedia terdekat tpi bku yang ini stock nya kosong semua, kira-kira masih terbit lagi atau tidak ya pak? sya sekaligus juga mau minta referensi judul buku yang membahas tentang loyalitas kerja untuk bahan skripsi saya
mohon bantuannya ya pak terima kasih

Reply »

Share Your Thoughts!

Copyright © 2019 Konsultan Karir. All rights reserved.