Jurusan S2 untuk bekerja di media cetak

oleh | 18 February 2014 | 2 Komentar

Dear Konsultan Karier,

Saya akan lulus S1 di bidang desain komunikasi visual tahun ini. Saya berniat mengambil S2 dibidang jurnalistik karena saya tertarik bekerja di majalah. Saya merasa DKV tidak cukup untuk membantu saya dan ingin mendapat gelar S2. Apakah keputusan saya ini tepat? Apakah ada jurusan lain selain jurnalistik yang dapat membantu saya dan masih berhubungan dengan jurusan yang saya ambil sebelumnya? Apakah bisa mendaftar S2 dengan bidang yang benar-benar berbeda dari jurusan S1?
terima kasih

Olivia

Dear Olivia

Melanjutkan pendidikan itu memang baik. Pertanyaannya, bagaimana bisa merasa DKV tidak cukup membantu untuk bekerja di majalah, padahal kamu belum pernah bekerja di bidang tersebut? Saran saya, cobalah selami dulu bidang jurnalistik untuk beberapa waktu, agar bisa merasakan sendiri kekurangan keahlian yang harus diperbaiki. Anda bisa mencoba merasakan dunia ini secara freelance atau mulai mengirimkan tulisan/karya ke beberapa majalah/surat kabar untuk nantinya menjadi portofolio saat memasuki dunia tersebut. Ikuti pula pelatihan jurnalistik/sejenisnya baik yang diadakan oleh kampus atau komunitas jurnalistik agar memiliki gambaran lebih nyata. Langkah ini sekaligus untuk memastikan apakah Anda memang benar-benar berminat di dunia jurnalistik atau tidak.

Menurut saya, untuk bekerja dengan sangat baik, tidak melulu harus berdasarkan pendidikan formal yang searah. Pada bidang-bidang tertentu mungkin perlu, tapi dalam jurnalistik, semua ilmu bisa menjadi dasarnya. Karena pada kenyataannya, apapun yang kita lakukan dalam hidup adalah belajar.

Dunia kerja saat ini, termasuk jurnalistik, tidak hanya membutuhkan nilai baik dari pendidikan formal semata. Perlu juga pengalaman nyata di bidang tersebut. Dunia jurnalistik terbilang unik. Tak hanya perlu pendidikan formal, tapi juga hati, pikiran, dan karakter yang mampu memoles seseorang menjadi jurnalis yang baik. Misalnya, bagaimana berempati saat harus berhadapan dengan korban bencana alam, bagaimana pula bisa membuat seorang narasumber menceritakan hal-hal rahasia tanpa memaksa. Hal-hal tersebut tidak ada di pendidikan formal, tapi pengalaman di lapanganlah yang mengajarkan. Jadi, pastikan kamu mengenali dulu medan perangnya sebelum memutuskan akan menggunakan senjata apa nantinya.

Semoga sukses!

Vriana Indriasari
lihat profile: http://konsultankarir.com/get-help/our-kaka

Share this post :

There are 2 comments .

Tadi

Berarti memang harus belaajr mengempati dia lebih dahulu ya pak? Tidak jarang saya bertemu dengan orang-orang yang katakanlah cuek dan kurang peduli dengan orang lain pak. Misalnya saya berada dalam satu pekerjaan yang mengharuskan saya bekerja bersama orang tersebut. Saya berusaha menyelesaikan bagian saya dan berharap sebaliknya. Namun ternyata tidak. Pekerjaan terbengkalai dan saya harus memperbaiki dan mengejar ketertinggalan tersebut. Padahal itu pekerjaan bersama. Lalu bagaimana caranya menjelaskan padanya tentang hal itu? Dan sayangnya hal itu jadi kebiasaan pak. Mungkin bisa saja saya menghindar. Tapi apa yang harus saya lakukan jika dalam suatu situasi saya harus berhadapan dengannya?

Reply »
    konsultankarir —

    Cara yang bisa dilakukan memang membicarakan kepada ybs dengan cara yang asertif, memberitahunya dengan tegas sekaligus sopan bahwa Anda keberatan dengan cara kerjanya. Jika tidak ada perubahan, coba diskusikan dengan atasan Anda dan ceritakan bagaimana dampaknya terhadap performa tim, semoga atasan bisa memberikan jalan keluar yang lebih baik

    Reply »

Leave a Reply to Tadi

Click here to cancel reply.

Copyright © 2019 Konsultan Karir. All rights reserved.