Karir dan Keluarga, Mungkinkah Sejalan?

oleh | 22 September 2014 | 0 Komentar

“Karier tak semata-mata pekerjaan. Namun, sebuah kemajuan dalam kehidupan individu melalui beragam aktivitas yang bersumber pada kemampuan diri, baik pemikiran, sikap, dan tindakan.”

Masih teringat dalam benak ketika bertemu dengan seorang ibu sebagai vice president di salah satu bank terkemuka. Dengan jabatan tinggi, dia bercerita tetap mempunyai waktu untuk mengurus kedua anaknya yang beranjak remaja. Teknologi komunikasi biasa dia gunakan untuk mengontrol anaknya di rumah maupun di sekolah. Dia rela bangun subuh setiap hari untuk mempersiapkan sarapan, memeriksa pekerjaan rumah anak-anaknya, sekaligus mengantar mereka ke sekolah sebelum bekerja. Kesibukan seorang ibu pekerja di atas,merupakan hal yang biasa ditemui pada masyarakat modern. Tak jarang banyak perempuan bekerja mempunyai perasaan tak nyaman (guilty feeling), karena tidak dapat mendampingi anaknya full time. Sementara,pekerjaan yang sibuk menuntutnya tetap profesional. Kabar gembira, perempuan bisa melakukan kedua hal ini dengan sama baiknya.

PENGEMBANGAN DIRI
Gambaran di atas paling tidak tercermin dari hasil survei yang dilakukan Accenture, di 32 negara termasuk Indonesia beberapa waktu silam. Menyebutkan perempuan lebih memilih bekerja dibandingkan harus tinggal di rumah. Perusahaan global management consulting,servis teknologi, dan outsourcing tersebut menemukan, 42% perempuan dan 46% laki-laki di Indonesia lebih memilih bekerja. Sekalipun,mereka tidak memiliki masalah keuangan. “Karier tak semata-mata pekerjaan. Namun, sebuah kemajuan dalam kehidupan individu melalui beragam aktivitas yang bersumber pada kemampuan diri, baik pemikiran, sikap, dan tindakan,” kata Career Coach Ardiningtiyas Pitaloka. Perempuan yang menjadi konsultan di sebuah situs karier terkemuka ini menyatakan makna karier sekarang lebih pada bagaimana seseorang ingin mengembangkan diri. “Jika membicarakan karier, maka penekanannya adalah eksplorasi diri sebagai pribadi. Jika dilihat lebih jauh lagi menjadi salah satu cara melihat ‘arti diri’ seseorang,” jelasnya. Hal inilah yang sering membuat salah kaprah,terlebih bagi para kaum Hawa. Ambisi yang tinggi terhadap karier, membuat mereka rela kehilangan kehidupan pribadi atau waktu bersama keluarga, lantaran kesibukan pekerjaan. “Itu hanya menjadi tren masyarakat saja. Apapun pilihan perempuan, sebaiknya dilakukan dengan sadar dan membuatnya bahagia. Dengan berkarier, sebenarnya perempuan bisa lebih mengembangkan kreativitasnya,” ujar penulis buku My Passion My Career ini.

TENTUKAN PRIORITAS
Selama ini, karier seringkali menjadi kambing hitam bagi perempuan menikah. Karier dinilai menghambat keharmonisan keluarga.“Karier bukan penghalang, tetapi justru menjadi pengembangan diri. Namun,perempuan yang sudah berkeluarga sebaiknya tetap memprioritaskan keluarga di atas pekerjaan,” ujarnya. Oleh karena itu, lanjut Ardiningtiyas, karier perempuan yang telah menikah sebaiknya tanpa paksaan. Menurutnya, bekerja dengan paksaan akan sulit menciptakan meaningfull of work. Membuat seseorang terbebani dengan perasaan bersalah
dan mengurangi keyakinan diri akan keputusan yang diambil. Lain halnya, jika pasangan menilai karier adalah sebuah cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Rasa terpaksa seringkali tak mampu dihindari. “Konsep keluarga juga bisa menjadi penyebab,seperti keyakinan pembagian peran antara suami dan istri. Sehingga lazimnya suami mencari nafkah,” jelasnya.

EFEKTIF WAKTU & KOMUNIKASI
Tidak dipungkiri, sebagian orang bekerja dan berkarier hanya mengikuti kelaziman di masyarakat. Bukan untuk menciptakan makna dan pengembangan diri.“Ketika seorang perempuan dihadapkan dengan karier atau keluarga, cenderung mengharapkan pengertian dari keluarga dan perusahaan. Tanpa mau berusaha menjalin komunikasi yang efektif, sehingga justru menimbulkan salah paham dan dukungan rendah,” jelasnya. Padahal secara logika, perusahaan dan keluarga akan bangga bisa melihat Anda bisa menjalani karier dan keluarga dengan baik.“Perusahaan senang memiliki karyawan dengan keluarga bahagia. Begitupun keluarga, mereka akan bangga dan bersyukur memiliki ibu yang bisa bermanfaat bagi banyak pihak,” tambahnya. Hanya saja pengelolaan waktu dan komunikasi yang efektif harus dibangun. Jalin komunikasi dengan pihak yang tepat, tanpa menurunkan profesionalisme di kantor. Kedua hal ini, menurut Ardiningtiyas harus dilakukan secara simultan dan sungguh-sungguh. Pengelolaan waktu yang demikian perlu melibatkan komunikasi efektif pula. Baik dengan keluarga maupun di tempat kerja. Komunikasi dalam keluarga, terutama anak-anak mesti dijalin dan peka terhadap lingkungan sosial. “Sayangnya yang terjadi selama ini, justru menjadikan keluarga sebagai alasan kurangnya sikap profesionalisme. Lalu, menganggap kantor sebagai excuse, rendahnya perhatian terhadap keluarga,” lanjutnya.

KEMBALI DARI AWAL
Berhenti sejenak dari pekerjaan karena melahirkan dan mengurus anak, seringkali
membuat perempuan tak lagi percaya diri untuk berkarier. “Biasanya disebabkan ketidaknyamanan diri meninggalkan anak yang selama ini dijaga penuh. Padahal, berhenti sementara dari pekerjaan, tidak menghilangkan kemampuan profesional seorang perempuan,” jelasnya. Cobalah memiliki tujuan yang kuat untuk kembali berkarier. “Mulailah dari awal. Mencari pekerjaan berdasarkan minat, mengirim lamaran, dan ikuti prosesnya. Jangan ragu untuk mengemukakan alasan vakum, karena anak saat interview,” tambahnya. Berterus terang adalah sikap yang lebih dihargai,daripada mengarang alasan lain. Setelah proses kerja berlangsung, rasa percaya diri pun tumbuh dan semakin kuat seiring berjalannya waktu.(Dina Marliana – Fem Magazine • 011 • 21 SEPTEMBER – 4 OKTOBER 2014 | Foto: photl.com)

*Penayangan artikel ini seizin FEM Magazine

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2019 Konsultan Karir. All rights reserved.