Pekerjaan Mulia

oleh | 9 March 2011 | 0 Komentar

If you’re not playing a big enough game, you’ll screw up the game you’re playing just to give yourself something to do. –ANONYMOUS

Pekerjaan mulia identik dengan panggilan jiwa, penuh ketulusan, tanpa pamrih dan sepenuh hati. Biasanya stempel ini cenderung disematkan pada mereka yang berprofesi sebagai pengajar (guru / dosen), paramedic (dokter / perawat), dan pekerja social (sukarelawan).

Bagaimana dengan pengusaha, bankir, atlet, pekerja seni (actor, penyanyi, perupa, pelukis), sastrawan, politikus, praktisi hukum (hakim, jaksa, pengacara). Bukankah mereka menyediakan lapangan kerja, melayani nasabah, mengharumkan nama bangsa, menghibur dan berkarya, juga menegakkan keadilan? Akan sangat panjang daftar profesi yang berhak protes jika dinilai tidak mulia.

Studi dalam vocational psychology menunjukkan tiga orientasi dalam bekerja, yakni (1) panggilan; (2) karir; (3) pendapatan.

(1) Panggilan; mereka yang menempatkan cinta dan ketertarikan tinggi dalam melakukan aktivitas kerja. Kedalaman afeksi/perasaan/emosi inilah yang tidak jarang mengundang gambaran ekstrem ‘tanpa pamrih’. Mereka akan tetap menjalani profesi itu meski minim pendapatan bahkan tidak dibayar. Keterlibatan personal secara penuh yang menampilkan ketulusan dengan perhatian ekstra untuk menghasilkan yang terbaik, ada atau tanpa tuntutan (atasan/klien). Mereka memiliki motivasi intrinsic yang begitu kuat sehingga mampu memberikan pengaruh bagi orang di sekitarnya.

(2) Karir; mereka yang mengutakan kepuasan dan tujuan jangka panjang dalam perjalanan berkarya atau aktivitas kerja. Penghargaan seperti promosi, tunjangan (termasuk kesempatan untuk meningkatkan skill dan pengembangan diri), jenjang dan struktur biasanya menjadi indicator fisik yang cukup mudah dikenali. Namun investasi mereka secara personal juga cukup kental, tidak hanya pada aspek – aspek teknis dunia kerja. Ciri lainnya, kepuasan professional dengan standard internal diri mengambil peran yang penting. Karena aspek teknis menjadi salah satu pertimbangan utama dalam berkarir, maka mereka pun mencari atau berusaha menciptakan lingkungan yang kondusif secara teknis.

(3) Pendapatan; mereka yang mengutamakan pendapatan nominal (termasuk tunjangan fasilitas fisik) dalam bekerja. Pada orientasi ini, keterlibatan afektif biasanya tidak sekuat dan serumit kedua orientasi sebelumnya. Pertimbangan mereka lebih berat pada hal-hal teknis professional seperti bagaimana bekerja dengan benar, berhasil mencapai target, dan sebagainya. Mereka cenderung lebih praktis dan pragmatis, sehingga tidak jarang mendapatkan pandangan negative. Pada dasarnya, mereka mengacu pada prinsip ekonomi; bagaimana meraih pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup.

Warna-warni profesi sesungguhnya selaras dengan alam yang penuh corak. Apapun profesi Anda, Anda lah yang menentukan orientasinya. Semoga bermanfaat 🙂

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.