Tujuh Tips untuk Tes Diskusi Kelompok

oleh | 26 December 2012 | 0 Komentar

Tahap ini bertujuan untuk menilai ketrampilan berinteraksi, berkomunikasi, seperti mengemukakan ide/pandangan pada orang lain juga inisiatif dan pola pikir. Akan tetapi, perlu diingat bahwa keputusan proses seleksi tidak ditentukan oleh satu tahap, melainkan kesimpulan dari seluruh proses. Dalam mengikuti tes diskusi kelompok, perhatikan beberapa faktor berikut:

Pertama: Peran. Apa peran Anda dalam diskusi tersebut: apakah sebagai satu tim X dengan peserta lain, mewakili perusahaan/lembaga sendiri atau mewakili divisi/departemen dalam satu perusahaan? Bersungguh-sungguhlah dalam peran tersebut. Jika berperan sebagai tim, perhatikan dinamika dan terlibatlah secara aktif dengan mendorong peserta lain (dalam hal ini rekan tim) untuk menghasilkan keputusan bersama. Begitu pula ketika mewakili perusahaan, utamakan kepentingan perusahaan, namun perhatikan pula masalah /faktor yang lebih penting seperti kemanusiaan. Carilah solusi yang bersifat win-win solution sebisa mungkin namun jangan takut mengambil sikap berbeda atau berdebat jika diperlukan. Lakukan secara asertif, bukan asal berbeda. Bersikaplah sportif ketika menerima koreksi pemahaman, atau umpan balik lainnya, termasuk terbuka memberikan dukungan pada pandangan peserta lain.

Proses assessment center biasanya menggunakan metode Leaderless Group Discussion (LDG), sehingga tidak terdapat moderator maupun pimpinan yang ditentukan oleh asesor. Perhatikan kebutuhan materi diskusi, jika diperlukan moderator atau pimpinan secara aklamasi, lakukanlah, jika tidak ada baiknya Anda mendorong diri untuk mengambil inisiatif peran ini. Metode ini memang dirancang untuk melihat inisiatif dan kemampuan peserta dalam memimpin dan mengarahkan orang lain atau situasi.

Ke dua: Tema Materi. Pelajari secara cermat materi yang diberikan dan kembangkan alternative solusi untuk didiskusikan dalam sesi itu. Perhatikan instruksi atau kebutuhan yang tertuang secara eksplisit atau implicit dalam materi.

Ke tiga: Fasilitas. Biasanya akan tersedia alat bantu seperti kertas dan alat tulis, serta papan tulis. Manfaatkanlah semaksimal mungkin, termasuk papan tulis dan spidol dalam ruangan diskusi. Beberapa materi memerlukan pemaparan di papan tulis agar semua peserta dapat mengkaji lebih jelas. Sayangnya hal ini jarang dimanfaatkan oleh peserta.

Ke empat: Persiapan Pendapat. Buatlah catatan kecil berupa ringkasan materi (bukan seperti menjawab soal esai, cukup poin untuk membantu proses diskusi, karena proses ini juga direkam). Biasanya materi diskusi menyajikan masalah untuk dipecahkan bersama. Untuk itu, tulislah poin masalah utama, kondisi dan peluang atau gunakan teknik SWOT (strength, weakness, opportunity dan threat). Tuliskan pula secara ringkas solusi utama dan alternatifnya dalam jangka pendek-menengah dan benefit lebih panjang guna perusahaan/lembaga/tim.

Ke lima: Asertif. Sampaikan pandangan secara jelas dan konkret sesuai kebutuhan (pada awal diskusi, biasanya masih sesi saling mendengarkan tiap pandangan peserta). Perhatikan pula alokasi waktu dan aktiflah untuk mengingatkan tim tentang hal ini.

Ke enam: Mendengarkan Aktif. Dengarkanlah pendapat lawan bicara dan catatlah jika ada pertanyaan yang melintas di pikiran saat itu sehingga tidak memotong penjelasan. Cara lain, mulailah dengan memberikan umpan balik yang bersifat klarifikasi (mengulang ide lawan bicara dengan kalimat sendiri), misal, ‘Jadi, maksud Anda adalah …’ Kalimat / umpan balik sederhana ini dapat membantu otak kita untuk menyusun kalimat selanjutnya.

Ke tujuh: Kesimpulan. Ambillah inisiatif untuk menarik kesimpulan diskusi dalam poin-poin singkat sekaligus untuk memastikan kesepakatan tim. Dorong peserta lain untuk mencermati kesimpulan yang Anda kemukakan.

Selamat berdiskusi 🙂

Gambar: saris.kcn.unima.mw

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.