Travel Writer: Profesi atau Hobi?

oleh | 5 November 2012 | 2 Komentar

Judul: Travel Writer
Penulis: Yudasmoro
Tahun: Juli,2012
Halaman: 202 + x
Harga: Rp. 44.000,-
Penerbit: Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Peresensi: Ardiningtiyas Pitaloka

“Fill your paper with breathings of your heart” — William Words Worth

Profesi atau hobi?

Pertanyaan ini dilontarkan penulis di awal buku dengan bahasa yang lugas dan memancing senyum ‘masam’, seperti, “kalau kamu hanya menulis tentang destinasi semata, hanya untuk iseng, dan hanya mengandalkan foto-foto landskap yang sering dikatakan ‘keren’ di Facebook, maka, akan tamatlah riwayat kamu sebagai travel writer.” (h.12)

Mengapa? Karena menurut Yudasmoro, sang pelaku dan penulis buku ini, travel writing sendiri sebuah permulaan. Seorang travel writer hendaknya seperti pengusaha yang juga memiliki visi, misi dalam suatu bidang, target yang jelas, ide, kemampuan menyusun jadwal, serta kedisplinan mengejar target.

Dalam menjalani profesinya, ia telah mengalami banyak peristiwa unik mulai dari honor kupon diskon kedai es krim, nasib artikel yang terkatung, diacuhkan editor, dikerjain tiket promo, berhadapan dengan calo terminal hingga simsalabim, fotonya hilang semua!. Semua pengalaman itu memberinya pelajaran berharga sehingga pembaca pun dapat merasakan semangat juang yang terpancar dalam tulisannya. Selain modal visi, misi, target dan kedisplinan, seorang travel writer juga didukung dengan: (1) powerful blog; (2) pengetahuan (mengenal) tentang media; (3) membangun jaringan; (4) kartu nama; (5) ide; (6) internet; (7) jejaring sosial; (8) komunitas.

Penulis menekankan pentingnya membangun relasi yang baik dengan media, event organizer, maskapai, travel agent, hotel atau banyak pihak lainnya yang terkait dengan unsur pariwisata. Ia mengutip seorang travel writer lain, Tim Leffel, yang mengatakan bahwa travel writing itu 10% menulis dan 90% marketing (h.27).

Apakah Anda pernah merasa iri dan bertanya-tanya ketika melihat orang-orang bule yang memanggul ransel besar, berpenampilan semi kucel dan keliling dunia seolah tanpa ragu kehabisan uang? Jika iya, Anda tidak sendiri, karena penulis pun pernah berpikir sama, hingga akhirnya mendapati profesi travel writer merupakan salah satu jawabannya! Meski demikian, penulis menyarankan pembaca untuk mengusir jauh image petualang bagi travel writer. Profesi ini tidak mengijinkan pelakunya untuk begitu saja termakan dengan istilah let’s get lost. Sebaliknya, harus penuh perhitungan dengan memiliki fokus dan sasaran yang jelas.

Menurut penulis, yang penting untuk diperhitungkan dalam menjalani profesi ini adalah: (a) faktor cuaca; (b) musim liburan; (c) bulan puasa; (d) dana terbatas. Faktor cuaca terkait erat dengan keamanan gadget juga objek foto, seperti pantai yang membutuhkan langit biru cerah, bukan tertutup awan atau kabut kabur. Sementara untuk masa liburan, ingatlah dengan harga tiket yang melambung, penginapan yang penuh dan menggandakan tarif, belum lagi kepadatan lalu lintas. Untuk itu, penulis memilih masa liburan sebagai masa untuk berleha-leha di rumah atau mengalihkan ke liputan dalam kota. Bagaimana dengan bulan puasa? Bukan berarti subjektif, namun harga-haarga juga melambung terutama menjelang lebaran, jadi ia mensiasati dengan membidik liputan khas Ramadhan seperti pasar takjil atau ritual lokal lainnya. Yang terakhir, dana terbatas, nah! poin ini semakin menegaskan bahwa profesi travel writer bukan untuk gaya-gayaan, karena ada media yang menanti liputan Anda.

Pertimbangan dana bukan berarti harus berlimpah, namun perhitungkan proses mencapai lokasi dan pernik-pernik lain dalam proses liputan. Meski demikian, penulis sangat menyarankan para pemula untuk menjalin hubungan baik terlebih dahulu sambil menunjukkan profesionalisme baik sikap maupun kualitas kerja. Nantinya, Anda bisa lebih mengenali mana media yang menghargai penulis mana yang tidak, selanjutnya, selektiflah.

Buku ini memiliki magnet bagi Anda yang memiliki kemampuan menulis, fotografi, senang jalan-jalan (juga berpetualang), namun cukup tegas menyajikan potret riil profesi seorang travel writer. Gayanya yang lugas dan ceplas-ceplos mengimbangi informasi yang mungkin dapat membuat peminat profesi ini untuk berpikir ulang, tetapi tidak sampai mengurungkan niat. Penulis juga menyajikan hasil bidikan kamera dari sudut pandang yang berbeda, seperti sepasang kaki mengenakan sepatu hitam dan kaos kaki berumbai, diambil dari Jember Fashion Festival, atau tiga generasi berbeda Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Itulah mengapa ide memegang peranan penting bagi seorang travel writer.

Walau terkesan ringan, terutama dengan gaya bahasanya yang mengalir dan ‘cuek’, namun sesungguhnya ini buku yang compact. Bagi pembaca yang belum memiliki pengalaman menulis dan berinteraksi dengan media massa (termasuk merasakan ditolak) mungkin yang lebih tertangkap adalah semangat ‘petualangan’ dan kesan keren, daripada profesi yang serius. Walau demikian, buku ini dapat menjadi little handbook yang layak dibaca berulang kali dan panduan mencoba baby step. Jangan khawatir, Yudasmoro juga memberikan contoh surat pada editor (media massa), selain contoh penulisan lain (dari yang sederhana hingga yang telah dimuat-tentu mengandung kompleksitas ide)

Share this post :

There are 2 comments .

Aira Kimberly

Wow. no comment deh. Ternyata pekerjaan menjadi seorang Travel Writer itu sungguh menantang. Pengen nyoba ah 😉

Reply »
Fahmi

awalnya sih mungkin hobi ya, tapi kelanjutannya, banyak yang menjadikannya profesi utama. siapa yang gak mau kerjaannya jalan – jalan mulu? dengan segala resiko yang ada tentunya 😀 *saya udah baca buku ini, udah di praktekkan juga* hasilnya bisa nulis sebiji buku, meski masih awal 😀 bagus deh pokoknya ini buku travel writer, banyak ilmunya 🙂

Reply »

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.