Komunikasi Non-Verbal dalam Interview

oleh | 5 May 2012 | 3 Komentar

Proses interview adalah bagian penting dalam serangkaian proses seleksi maupun asessment yang bertujuan untuk mapping potensi karyawan. Berbeda dengan rangkaian tes lain yang memiliki pola question-answer, proses ini melibatkan interaksi langsung dengan pewawancara, untuk itu, Anda juga perlu memperhatikan komunikasi non-verbal. seperti berikut:

1. Berpenampilan tepat. Anda tidak harus mengenakan blazer, namun tetap formal seperti kemeja (laki-laki) sementara perempuan juga memiliki banyak alternatif. Perhatikan kenyamanan Anda sendiri, karena sedikit banyak akan mempengaruhi penampilan dalam interview sehingga membuat tegang atau kurang berkonsentrasi. Meski proses interview adalah proses penggalian data dan seleksi, namun penting untuk membangun interaksi yang nyaman, hangat dan rileks.

2. Jabat tangan hangat dan percaya diri. Tanyakan pada teman, bagaimana gaya dan kesan jabat tangan Anda. Sepertinya sepele, namun pernahkan Anda berjabat tangan dan merasa kesakitan? Atau seperti menjabat kayu yang kaku? Bagaimana kesan yang kemudian muncul? Perhatikan bagian kecil ini karena jabat tangan juga mengawali interview. Pada saat berjabat tangan, mulailah membangun kontak mata dan senyum tulus sembari menyebutkan nama Anda (lihat http://konsultankarir.com/2011/06/10/saya-dan-karir/jabat-tangan/).

3. Kontak mata. Bangunlah kontak mata secara wajar dan luwes, bukan berarti pandangan tidak berkedip atau selalu menatap mata pewawancara. Anda dapat memandang ke arah lain dalam sekian detik. Kontak mata juga menggambarkan bagaimana Anda membangun interaksi social yang hangat dan professional.

4. Gesture tepat. Gerakan tubuh seperti menyilangkan kaki, menyentuh dagu dengan jari, mengangkat bahu, mencondongkan tubuh/sebaliknya, dsb, termasuk bagian yang perlu Anda perhatikan dalam interview. Ciptakan suasana rileks, namun bukan berarti Anda bisa menyandarkan tubuh sesantai di pinggir pantai. Beberapa individu memiliki kebiasaan mengetukkan pulpen/pensil ke meja, atau melipat-lipat kertas yang sebenarnya adalah usaha untuk menenangkan diri dari rasa cemas. Perhatikan kebiasaaan diri sendiri, dan berlatihlah untuk mengendalikan agar tidak mengganggu konsentrasi dalam interview.

5. Bersikap sopan. Apabila proses interview dilakukan setelah serangkaian proses tes yang panjang, kelola emosi dan diri untuk tetap tenang dan rileks. Biasanya, pewawancara akan melakukan ice breaking dengan menanyakan proses tes atau perjalanan menuju tempat tes/interview. Berikan respons tepat karena proses ini merupakan fondasi untuk menjalin interaksi dalam sekian menit ke depan (30-90 menit).

6. Senyum. Selain kontak mata, senyum juga bagian yang terkadang dilupakan oleh kandidat, terlebih yang merasa lelah dengan proses tes atau kemacetan menuju tempat tes atau keinginan untuk segera selesai. Cobalah untuk tersenyum dengan tulus karena ini akan membantu diri sendiri untuk lebih rileks sehingga dapat ?berbincang? dengan pewawancara dengan lancar.

7. Jarak personal pewawancara. Dalam proses wawancara, pewawancara akan berusaha menciptakan suasana yang rileks namun tetap professional. Harapan pewawancara, Anda juga memberikan respons yang sama, namun perhatikan pula jarak personal seperti tidak terlalu mencondongkan tubuh ke arah pewawancara, atau menggeser kursi hingga di berdampingan atau membentuk sudut L.

8. Merespons komunikasi non verbal pewawancara. Ingat, bahwa interview bukanlah sesi pidato yang bersifat satu arah. Perhatikan respons non verbal pewawancara seperti kernyitan dahi, tarikan bahu, sorot mata termasuk senyum. Sama dengan interaksi social informal, beberapa gesture itu memiliki arti atau mewakili bahasa verbal seperti, ‘Oya.., mengapa bisa seperti itu’ Bagaimana Anda melakukannya?? termasuk menyangsikan pernyataan atau ingin mengajukan interupsi.

9. Hindari pertentangan antara komunikasi verbal dan non verbal. Selama Anda tampil dengan jujur, sebenarnya kemungkinan pertentangan ini kecil terjadi. Anda bisa menggunakan gerakan tangan untuk meyakinkan pewawancara, juga anggukan kepala. Bagi pewawancara yang telah berpengalaman, ia tidak hanya merekam kalimat secara verbal namun juga mencermati bahasa tubuh dan pernyataan keseluruhan. Misalnya, Anda mengatakan sangat tertarik dengan posisi X, namun sorot mata Anda menyatakan sebaliknya, pewawancara akan berusaha memastikan dengan beragam pertanyaan untuk mendapatkan bukti lain lebih detil bahwa Anda memang benar-benar tertarik, bukan karena ‘yang penting kerja’ atau ‘disuruh orangtua’ dsb. Salah satu indicator minat adalah adanya usaha yang telah dilakukan seperti mencari informasi baik melalui media atau orang lain.

9. Sampaikan pesan secara sistematis dan terstruktur, namun luwes. Pelajari teknik STAR yakni menjawab dengan menjelaskan Situasi pada saat kejadian, Task/Tugas-gambaran tugas atau target yang harus dicapai serta peran saat itu, Action- tindakan yang dilakukan, dan Result/Hasil yang didapat.

10. Berbincang, bukan question-answer. Ingatlah percakapan dengan rekan kerja atau teman, bukankah kita akan menjawab pertanyaan dalam percakapan tersebut dengan mengalir? Sama halnya dengan interview, usahakan agar jawaban/penjelasan Anda mengalir seperti berbincang. Hal ini hanya bisa terjadi jika Anda memperhatikan tips di atas seperti kontak mata, gesture, juga memperhatikan respons non verbal pewawancara.

11. Suara jelas. Perhatikan volume, nada dan intonasi suara Anda ketika berbincang dalam interview agar tidak terlalu keras atau justru lirih. Untuk mengetahuinya, perhatikan respons non verbal pewawancara termasuk verbalnya. Biasanya dalam interview mendalam (kurang lebih 1 jam) pewawancara akan menggunakan alat perekam (meminta ijin sebelumnya dari Anda). Sebagai gambaran, pewawancara akan mendengarkan kembali rekaman wawancara untuk memastikan data dan analisis bersama hasil tes lain.

Selamat mencoba dan semoga sukses! Sumber: Kessler, Robin (2006) Competency-based interviews. New Jersey; Career Press

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2019 Konsultan Karir. All rights reserved.