Refleksi Karier: Passion memudahkan segalanya

oleh | 11 December 2013 | 0 Komentar

Aira Kimberly: Writer, Editor, Ghostwriter, Virtual Creative

Bayangkan…

Seorang penjahit yang biasanya selalu duduk manis di depan sebuah mesin jahit. Bergelut dengan tumpukan  tekstil aneka warna   dan corak  untuk diolah. Berkalung meteran kain di lehernya serta sebuah gunting besar dan pensil merah biru yang selalu setia menemani hari demi harinya.

Sekarang, mesin jahit berganti dengan laptop. Jemari yang biasa beradu kuat dengan ketebalan tekstil untuk digunting sekarang menari-nari lembut di atas tombol keyboard.  Tak ada lagi pensil merah biru dan gunting besar. Sekarang yang ada adalah sebuah flash disk dan tumpukan buku untuk bahan tulisan.

Passion Memudahkan Segalanya!

Dua jenis profesi dengan kebutuhan yang bisa dibilang  sangat bertolak belakang. Bila profesi penjahit adalah pekerjaan yang lebih banyak menggunakan aktivitas fisik, maka pekerjaan penulis lebih banyak menguras pikiran. Namun kata ‘passion’ memudahkan segalanya.

Passion, cinta, menjadi kata-kata sakti saat kita bekerja. Passion membakar cinta dalam dada mengalahkan segala susah;

  • Kala harus berjalan kaki lima sejauh lima kilometer menuju kantor pos di siang yang terik  sementara ada bayi montok dengan berat aduhai di gendongan.
  • Kala harus mengolah rasa sabar karena harus antri di warnet yang crowded, sementara detik demi detik menjelang deadline memacu adrenalin.
  • Kala harus fokus mengetik di rental komputer pinggir jalan yang tak pernah sepi dari seliweran kendaraan bermotor, sementara mataku juga tak boleh lepas mengawasi  balitaku yang tak pernah bisa duduk diam seakan hendak menerjang ke jalanan.
  • Kala harus kucing-kucingan sama ‘soulmate’-ku   yang ‘belum’ mendukung karena aku berpindah profesi.
  • Kala harus menyiasati banjir  Jakarta dengan anak-anak  setiap kali harus ngumpul di   komunitas penulis tiap Ahad.

Kalau harus jumpalitan menyiasati waktu yang hanya 24 jam sehari dan nggak pernah ada bonus Free Hours   padahal deadline mengejar demikian pula urusan ibu rumah tangga yang tak berkesudahan

Semua peristiwa itu sekarang menjadi  sejarah manis karena  …

  • Sekarang alhamdulillah aku punya perangkat kerja sendiri. Gak harus ke rental komputer  lagi
  • Sekarang alhamdulillah aku bisa duduk manis di depan laptop sembari menemani anak-anak belajar
  • Sekarang alhamdulillah aku  tak perlu ke warnet lagi untuk kirim email ke penerbit karena di rumah sudah ada akses internet 24 jam
  • Sekarang alhamdulillah anak-anak mulai besar dan mandiri sehingga aku bisa lebih banyak terima orderan untuk bekal masa depan mereka
  • Sekarang alhamdulillah pasangan sudah mendukung profesi baruku
  • Sekarang  alhamdulilah orderan nulis datang sendiri dan tak selalu harus mengajukan diri

Cobaan Hidupku

Namun hidup  memang harus selalu up and down. Saat aku merasa semua settled up dan aku tinggal menjalankan semua rencanaku untuk meraih target yang lebih baik lagi…

Mama, seorang yang seluruh hidup  kudedikasikan untuknya mulai sering jatuh sakit. Mamaku tercinta, seorang single parent yang tangguh, sekarang lebih banyak sakit dan bolak balik ke rumah sakit. Mama pun dibawa ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan lebih baik. Namun manusia hanya bisa berusaha Allah yang lebih berkuasa. Mama akhirnyakembali ke pangkuan Allah swt pada bulan April 2013.

Kejadian ini  sangat memukul batinku. Dunia seakan berhenti berputar. Sungguh tak bisa dipercaya.

Mengapa? Mengapa?

Mengapa  mamaku yang  dipanggil duluan? Mengapa saudara-saudaranya bisa hidup lebih lama?  Seribu satu pertanyaan yang tak terjawab selalu berkecamuk. Mungkin orang melihat aku biasa saja padahal di dalam remuk redam.

Aku tak bisa menulis lagi. Aku duduk  di depan monitor namun pikiranku melayang pergi entah kemana. Yang ada hanya rasa menyesal. Menyesal karena merasa kecele. Aku  manusia yang sok hebat ini merasa Mama akan berumur panjang hingga aku lalai. Aku seakan yakin bahwa akan selalu ada hari esok untuk kami bisa rajut bersama.

 “Mengapa… oh..mengapa? Aku masih membutuhkan Mama… Aku belum bisa membahagiakannya… Aku selalu menyusahkannya….”

Support Networking

Alhamdulilah,  untung saja semua pemberi  order menulis,  bisa memahami kondisiku . Aku perlahan bisa bangkit karena support mereka padahal kami hanya bertemu di dunia maya. Kami mencapai persetujuan untuk menjadwal ulang semua deadline penulisan.  Kesempatan kedua ini memaksaku bangkit kembali.

Alhamdulillah… ya Allah…sekarang di penghujung  2013 hanya tinggal beberapa  naskah lagi yang harus diselesaikan. Semoga  semua bisa selesai sebelum tahun 2013 ini berakhir. Karena tahun 2014, banyak target karir  yang harus diraih.

“I have set a plan and a new passion to reach in my new career next year. More close to what Mom wanted me to do. Still, it’s all bout you Mom and just for you.”

 

Wish me luck and see you all next year guys!^__^

 

lihat profile http://www.konsultankarir.com/get-help/our-kaka

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2019 Konsultan Karir. All rights reserved.