<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>konsultankarir.com</title>
	<atom:link href="http://konsultankarir.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultankarir.com</link>
	<description>karir - konsultasi karir - konsultasi psikologis - konsultasi SDM - assessment - rekrutmen</description>
	<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 04:48:47 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Istimewanya Rasberi</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/03/08/resensi-buku/istimewanya-rasberi/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/03/08/resensi-buku/istimewanya-rasberi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 04:48:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<category><![CDATA[analisa]]></category>

		<category><![CDATA[Aretha Aprilia]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[karir internasional]]></category>

		<category><![CDATA[lowongan kerja]]></category>

		<category><![CDATA[panduan]]></category>

		<category><![CDATA[PBB]]></category>

		<category><![CDATA[profesional]]></category>

		<category><![CDATA[rahasia]]></category>

		<category><![CDATA[rasberi]]></category>

		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Judul		:  Rahasia Sukses Berkarir Internasional
Penulis		: Aretha Aprilia
Penerbit	             : PT. Gramedia Pustaka Utama 2010
Hal		: 134 halaman + XXVII
Harga		: Rp. 30.000,-
Peresensi	             : Lestari N.
Rasberi di atas bukanlah sejenis buah yang biasa kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul		:  Rahasia Sukses Berkarir Internasional<br />
Penulis		: Aretha Aprilia<br />
Penerbit	             : PT. Gramedia Pustaka Utama 2010<br />
Hal		: 134 halaman + XXVII<br />
Harga		: Rp. 30.000,-<br />
Peresensi	             : Lestari N.</p>
<p>Rasberi di atas bukanlah sejenis buah yang biasa kita nikmati, melainkan kepanjangan dari Rahasia Sukses Berkarir Internasional. Sebuah singkatan yang unik, yang menurut pengarangnya, Aretha Aprilia, dia ambil karena tak hanya menarik namun sekaligus mengasosiakan rasa buah Rasberi itu sendiri yang manis sekaligus asam, yang mewakilkan kondisi orang Indonesia yang berkarya di dunia internasional. Mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan kesuksesan meski terkadang juga mendapatkan hambatannya, rasa asam yang mau tak mau harus ditelan.</p>
<p>Buku ini merupakan panduan bagi para professional muda di tanah air, baik yang sudah meniti karir maupun yang masih fresh graduate, yang memimpikan bisa bekerja di luar negeri dengan standar kerja dan penghasilan dolar. Penulisnya sendiri berangkat dari berbagai pengalamannya belajar dan bekerja di luar negeri, termasuk bekerja di salah satu lembaga PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) yang familiar disebut UN (United Nations). Tepatnya bergabung full time di UNEP (United Nations Environment Programme) di Bangkok dari tahun 2006-2009, yang awalnya di awali dengan program magang (internship) pada UNEP di Paris dan Bangkok selama 6 bulan.</p>
<p>Sebagai buku panduan praktis, buku ini secara rinci menuntun para pembaca, khususnya bagi kelompok usia produktif muda (dibawah 30 tahun) untuk mendapatkan gambaran secara jelas sekaligus kisi-kisi riil, bagaimana menemukan potensi diri sekalugus peluang bekerja di luar negeri. Untuk memudahkan pembaca, memahami dan menggunakan buku ini, Penulis membagi buku ini menjadi 6 bab. Bab 1 berisi persiapan sebelum melamar lowongan kerja, yaitu dengan melakukan perencanaan karir melalui analisis diri mengenai jenis atau tipe pekerjaan yang paling disukai. </p>
<p>Setelah itu dijelaskan mengenai pentingnya menganalisis lowongan kerja dengan melihat lebih dalam dan melihat kesesuaian kualifikasi atau profil Anda dengan persyaratan untuk posisi tersebut. Selain itu dijelaskan juga mengenai strategi pembangunan akses ke institusi internasional, tips mengikuti program internship yang efektif dan membangun jejaring yang luas (halaman 19).</p>
<p>Pada Bab II di jabarkan tentang strategi melamar pekerjaan, termasuk di dalamnya trik menyusun surat lamaran dan CV yang efektif, disertai dengan contoh-contoh dan penjelasan mengenai berbagai tipe CV. Pada Bab III dijelaskan mengenai tahap persiapan dan saat menghadapi wawancara kerja, dan beberapa contoh pertanyaan wawancara yang bersifat umum, sulit, dan pertanyaan tentang tingkah laku.</p>
<p>Bab IV berisi tentang proses setelah diterima kerja dan tips untuk melakukan negosiasi gaji, tunjangan, fasilitas, dan sebagainya. Di dalamnya berisi beberapa contoh korespondensi proses negosiasi yang dilakukan melalui surat atau email sebagai referensi. Dalam Bab V terdapat beberapa tips bagi pekerja yang telah bekerja di institusi internasional dan saran untuk meningkatkan performa dan kualifikasi agar senantiasa berkembang. Sedangkan Bab VI adalah kata penutup yang merangkum dan mengakhiri buku ini.</p>
<p>Berbagai tips dan trik praktis dari penulis baik berupa pengalaman dirinya sendiri maupun share dari pengalaman berbagai koleganya, menjadi pengikat buku ini bagi para pembacanya. Termasuk ketika dia membagi tipsnya tentang memelihara hubungan melalui jejaring. Poin pertama dan yang terpenting adalah jangan pernah sekalipun meminta pekerjaan karena hal tersebut akan membuat relasi kita merasa tidak nyaman.</p>
<p>Penulis menggambarkan contoh ketika mantan atasannya mencoba memperkenalkan  beberapa koleganya  dengan ungkapan terbuka bahwa si penulis ini sedang mencari pekerjaan, maka yang terjadi adalah para kolega mantan atasannya berubah menjadi sangat tertutup. Namun penulis segera melakukan diplomasi dengan mengungkapkan: “Sebetulnya saya tidak semata-mata mencari pekerjaan di organisasi Anda. Saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut aktifitas atau proyek yang dilakukan oleh Anda. Apakah kiranya saya bisa minta waktu untu berdiskusi dengan Anda supaya mendapatkan informasi lebih lanjut?”. Lalu respons yang didapatkan pun lebih positif, para kolega tadi lebih rileks dan terbuka, serta memungkinkan saling bertukar kartu nama, dan membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih lanjut (halaman 21).</p>
<p>Proses membangun jejaring ini secara jelas dipaparkan di beberapa bagian buku ini, yang sekaligus menunjukkan fakta yang disampaikan penulis bahwa 70%-80% pekerjaan diperoleh melalui jejaringan (networking), 10%-15% melalui internet, 5% melalui target mailing, 5%-10% melalui jasa executive search, dan hanya 5% dari iklan lowongan dan pameran bursa kerja. Secara ringkas dan padat, buku ini diharapkan mampu memberikan panduan sekaligus inspirasi bagi kelompok muda di Indonesia, yang mengharapkan mampu bekerja di berbagai belahan bumi, menjadi bagian bagian dari para pekerja terdidik secara internasional, di era global seperti saat ini. Bersaing di dunia internasional? Siapa Takut?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/03/08/resensi-buku/istimewanya-rasberi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ayun Tongkat Sihir &#038; Ucapkan Mantra Karir Anda!</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/03/08/saya-dan-karir/ayun-tongkat-sihir-ucapkan-mantra-karir-anda/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/03/08/saya-dan-karir/ayun-tongkat-sihir-ucapkan-mantra-karir-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 04:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Saya dan Karir]]></category>

		<category><![CDATA[dorongan]]></category>

		<category><![CDATA[Harry Potter]]></category>

		<category><![CDATA[JK.Rowling]]></category>

		<category><![CDATA[karier]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[kerja]]></category>

		<category><![CDATA[mantra]]></category>

		<category><![CDATA[motivasi internal]]></category>

		<category><![CDATA[penyihir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda penikmat novel sihir Harry Potter, mantra apa yang menjadi favorit? JK. Rowling tidak hanya membius para pembaca dengan alur dan jalinan cerita yang erat dan dinamis. Seakan tidak membiarkan pembacanya teralihkan oleh hal lain, ia memaksa seluruh sel kelabu untuk menebak, mengingat hubungan antara satu tokoh dan peristiwa. Serial novel ini sarat dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika Anda penikmat novel sihir Harry Potter, mantra apa yang menjadi favorit? JK. Rowling tidak hanya membius para pembaca dengan alur dan jalinan cerita yang erat dan dinamis. Seakan tidak membiarkan pembacanya teralihkan oleh hal lain, ia memaksa seluruh sel kelabu untuk menebak, mengingat hubungan antara satu tokoh dan peristiwa. Serial novel ini sarat dengan energi dan emosi dari yang membuat kening pembaca berkerut, bibir tersenyum simpul, terpingkal (boleh sambil berguling juga…) juga bersungut-sungut sebal ‘menyaksikan’ guru yang rambutnya berminyak: Prof. Snape!</p>
<p>Kembali pada mantra ciptaan penyihir di balik dunia sihir Hogwatrs, sadarkah kita bahwa ia pun mengoptimalkan teori-teori motivasi? Mari kita ingat (bagi yang belum berkenalan, akan saya sihir secara singkat ? ). </p>
<p>Expecto Patronum. Adalah mantra untuk melawan dementor, makhluk paling mengerikan yang tak berwajah, berjubah hitam dengan mulut untuk mengecup dan menghisap segala kebahagiaan mangsanya. Mantra ini akan menghasilkan patronus, sejenis bayangan keperakan seperti asap yang berbentuk binatang dan berbeda antara satu penyihir dan lainnya. Caranya, penyihir harus ’menghadirkan’ kenangan terkuat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Patronus pun akan menerjang dementor dan mengusir makhluk ini. Semakin kuat memori kebahagiaan yang hadir, semakin kuat patronus yang terbentu, wujudnya pun semakin padat. Atau ia akan kalah dengan dementor dan tenggelam dalam duka terburuk, lebih buruk dari kematian. Sebagai mantra tertinggi, tidak semua penyihir mampu melakukannya. Kebanyakan mereka akan tenggelam dalam kenangan buruk yang tersisa.</p>
<p>Ridiculous. Anda pasti akan mudah menebak dari arti katanya, yup.. menggelikan! Mantra ini berguna ketika penyihir bertemu boggart, sejenis hantu yang tidak pernah diketahui wujud aslinya. Ia akan berubah menjadi bentuk sesuai dengan ketakutan terbesar penyihir yang ditemui. Boggart akan berwujud bulan di hadapan penyihir serigala, atau menjadi Prof. Minerva yang mengatakan Hermione gagal di semua ujian, karena itulah ketakutan terbesar sahabat Harry Potter. Bagaimana cara kerjanya? Penyihir tidak sekedar mengucap mantra dan mengarahkan tongkat sihir, namun harus ’mengubah’ si boggart menjadi wujud yang sangat menggelikan. Adalah berhasil jika wujud itu benar-benar hadir di kepala penyihir dan berdampak pada wujud si boggart, sebelum akhirnya ia akan ditangkap atau kabur..</p>
<p>Kembali ke dunia muggle, dunia para insan yang tak memiliki kekuatan sihir. Bukankah Rowling menangkap keping-keping esensi diri kita yang terselip di fragmen kehidupan sehari-hari? Pada mantra patronus, kita sering dikepung oleh dementor-dementor kehidupan, dari pekerjaan yang bertumpuk, rekan kerja yang tidak konsisten, atasan yang tidak peduli, dan masih banyak lagi. Rowling menggeliltik kita untuk mengeluarkan kekuatan diri untuk bisa melewati semua ini, dari dalam diri sendiri.</p>
<p>Sementara pada mantra boggart, tantangan atau ketakutan itu berasal dari dalam diri sendiri. Pernahkah mendengar ’kemampuan menertawakan diri sendiri menjadi salah satu pemecah tembok awal’? Kemampuan dari dalam diri untuk meghadapi kendala dan tantangan yang berasal dari sendiri dengan kekuatan pikiran yang di luar kotak. Neville, salah seorang sahabat Harry Potter mengubah boggart Prof.Snape dengan membayangkan si Profesor mengenakan baju sang nenek dengan topi lebar dan berbunga. </p>
<p>Kemampuan untuk menciptakan dan mempertahankan stamina dan dorongan untuk bekerja keras sesuai dengan beban kerja menjadi salah satu kompetensi yang diperlukan di dunia profesional. Pertanyaan lainnya adalah, apakah kita semua memang telah membuka diri menyambut bahwa karir adalah personal, bukan di tangan institusi, perusahaan apalagi atasan?</p>
<p>Apa mantra karir Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/03/08/saya-dan-karir/ayun-tongkat-sihir-ucapkan-mantra-karir-anda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Asyiknya menjadi Hantu…???</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/03/05/blog/curahan-hati-seorang-perempuan/asyiknya-menjadi-hantu%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/03/05/blog/curahan-hati-seorang-perempuan/asyiknya-menjadi-hantu%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 01:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Curhat Kaka]]></category>

		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<category><![CDATA[ghost writer]]></category>

		<category><![CDATA[kantor]]></category>

		<category><![CDATA[karier]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[passion]]></category>

		<category><![CDATA[penulis]]></category>

		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/2010/03/05/blog/curahan-hati-seorang-perempuan/asyiknya-menjadi-hantu%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[“Ghost writer?” Kaka menaikkan nada suaranya dua oktaf mendengar agenda terbaru Mimi. ”Iya, ini masih proposal sih, lu tahu kan bos gue udah mulai tampil di sana-sini, nah.. dia belum punya buku, secara pengalamannya kan udah layak dibukukan..” Mimi memberikan penjelasan dengan semangat namun tenang.
Kaka masih memandang sahabatnya yang siang ini mendamparkan diri ke kantor. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Ghost writer?” </em>Kaka menaikkan nada suaranya dua oktaf mendengar agenda terbaru Mimi. <em>”Iya, ini masih proposal sih, lu tahu kan bos gue udah mulai tampil di sana-sini, nah.. dia belum punya buku, secara pengalamannya kan udah layak dibukukan..”</em> Mimi memberikan penjelasan dengan semangat namun tenang.</p>
<p>Kaka masih memandang sahabatnya yang siang ini mendamparkan diri ke kantor. Tumben banget Mimi muncul bak hantu di siang bolong begini. <em>”Sambil nunggu waktu untuk ketemu klien deket sini, gue kangen nih ama kalian berdua, lama ga nongkrong.. Eh, mana si Didi?” </em> Tuh kan, bukan Mimi kalau tanpa agenda, perencanaan super rapi. Dua minggu ini memang mereka berempat, Kaka, Mimi, Didi dan Riri yang biasanya menyempatkan waktu untuk merumpi di penghujung minggu justru super sibuk di hari yang dinanti para eksekutif muda itu. </p>
<p><em>”Tadi sih gue denger dia lagi nyanyi-nyanyi di ruangannya, tau tuh.. nah ni dia” </em> Tepat ketika di akhir kalimat Kaka, Didi nongol di ruang Kaka. <em>”Seperti ada suara yang gue kenal.. wkwkwk&#8230;, pa kabar Say!” </em> Mereka melakukan <em>toast</em> dan cekikikan.. yah, tawa dan pertemuan ini memang suplemen bagi maniak kerja seperti mereka. ”<em>Tinggal Riri nih, telpon gih terus lunch bareng,”</em> usul Mimi. ”<em>Hari ini ngajar kayaknya, tambah sibuk aja tuh temen kita satu, ” </em>balas Kaka. </p>
<p>Santap siang bertiga seperti ini menjadi kemewahan tersendiri, tetap Kaka merasa ada yang kurang, tapi, jauh lebih dari cukup untuk penyegar hari. Rasanya bosan juga ama si Didi mulu.. hihihi.. asal jangan dia denger aja. Pasti dia akan membalas tak kalah semangat <em>,”Emang gue kagak?..” </em> Huahaha&#8230; </p>
<p>Mimi menjadi bintang siang ini, niatnya menjadi <em>ghost writer </em>ternyata mendapat sambutan di luar dugaan. <em>”Haaaah??? Ngapain lu.. kenapa ga lu aja yang tampil?” </em>Didi hampir terlonjak dari kursinya untuk memastikan betapa absurdnya ide Mimi. <em> ”Wah&#8230; gue ga berani,” </em>sahut Mimi santai. <em>”Kenapa? Takut dianggap pesaing ya?” </em>tambah Kaka memanaskan suasana. Didi pun tak kalah melancarkan pandangan ’tidak terima’ yang membuat Mimi salah tingkah. <em>”Adduuuh.. salah ni gue ke sini, &#8230; ilmu gue kan dari si bos semua, ga berani gue, ga ada apa-apanya,” </em>Mimi masih bertahan dengan benteng yang kokoh tapi mulai terdengar retak. <em>”Yak&#8230; bukan berarti lu ga mengolah itu Mi, lu kan juga nambah ilmu dari sana-sini sendiri,  mestinya bos lu bangga lagi..” </em>balas Kaka. Mimi cuma menaikkan bahu dan menyendokkan makanan ke mulutnya. </p>
<p><em>”Coba inget deh, tulisan lu di blog tu selalu dapat komentar banyak, udah saatnya lu ber-narsis-ria. Kombinasikan aja ilmu lo ama si bos, jadi temanya juga lebih kaya,” </em>Didi terus menjadi tukang kompor siang ini. Wah&#8230; coba Riri ada, pasti lebih <em>hot</em> lagi&#8230;, Kaka pun ingat rencana Riri untuk menulis buku, <em>”Riri juga kan lagi mau nulis buku,”</em> tambahnya. Mimi pun terlihat mulai tergoda untuk mengakui ide dua sobatnya ini tidak keliru. <em>&#8220;Lu juga udah isi workshop di sana-sini kan..,&#8221; </em>tambah Didi meyakinkan</p>
<p><em>”Hmmm&#8230; boleh juga sih masukannya.. gitu ya..”  </em>balas Mimi. Kaka dan Didi pun mengangguk puas.. <em>”Gue udah sih ngumpulin bahan untuk buku gue sendiri, tapi ya.. itu, waktunya.. belum sempet juga,” </em>tutur Mimi melunak. </p>
<p>Puas rasanya memanas-manasi Mimi, hihihi&#8230; apalagi melihat ekspresinya yang tidak berdaya huahaha&#8230; Mungkin itulah salah satu tugas sahabat menjadi pendorong dan pemanas. Emang tungku&#8230; </p>
<p><em>”Buku kalian gimana?”  </em>tanya Mimi tiba-tiba. Kaka dan Didi berpandangan. Buku? Uppps&#8230; ada sih rancangannya dan wiiih ke mana aja ya&#8230;. Semangat yang menggebu saat itu, masih ada sih, cuma kenapa waktu rasanya enggaaaan sekali sejenak menekan pedal rem &#8230;. yang ada malah bikin rancangan lain.., wadooow.. pertanyaan Mimi teramat menohok&#8230;.</p>
<p><em>Kena lu..! </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/03/05/blog/curahan-hati-seorang-perempuan/asyiknya-menjadi-hantu%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keputusan Di Tengah Kesulitan</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/03/04/resensi-buku/keputusan-di-tengah-kesulitan/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/03/04/resensi-buku/keputusan-di-tengah-kesulitan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 05:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<category><![CDATA[decision making]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[keputusan]]></category>

		<category><![CDATA[metode 10-10-10]]></category>

		<category><![CDATA[pilihan]]></category>

		<category><![CDATA[Susan Welch]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Judul		: The Power of 10-10-10
Penulis		: Susan Welch
Penerbit	             : Penerbit Kaifa, PT. Mizan Pustaka 2009
Hal		: 252 halaman
Harga		: Rp. 42.000,-
Peresensi	             : Lestari N.
10-10-10? Ada apa dengan tanggal 10 bulan Oktober  tahun 2010? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul		: The Power of 10-10-10<br />
Penulis		: Susan Welch<br />
Penerbit	             : Penerbit Kaifa, PT. Mizan Pustaka 2009<br />
Hal		: 252 halaman<br />
Harga		: Rp. 42.000,-<br />
Peresensi	             : Lestari N.</p>
<p>10-10-10? Ada apa dengan tanggal 10 bulan Oktober  tahun 2010? Itu yang pertamakali ditanyakan oleh seorang teman ketika saya menuliskan kata The Power of 10-10-10. Rupanya angka tersebut memang menarik dan lumayan unik. Bahkan kehadiran buku ini yang merupakan buku tentang metode pengambilan keputusan tersebut, gagasannya muncul dalam situasi yang unik pula. Bayangkan seorang perempuan karir yang sangat bersemangat mendongkrak karirnya, memaksakan diri mengajak ke dua anaknya pergi ke Hawaii, 12 jam perjalanan dengan pesawat dari kota tempat tinggalnya, untuk menghadiri sebuah konferensi penting (hal 16).</p>
<p>Yang terjadi bukannya anak-anaknya bahagia, dan konferensinya sukses, namun semuanya malah berantakan.  Saat itulah sang menyesali keputusannya yang “memaksakan” diri mengajak anak-anaknya itu. Coba saja kalau dia bisa memutuskan dalam waktu 10 menit dengan keputusan meninggalkan anak-anaknya di rumah, paling-paling kedua anaknya akan rewel seharian, serta segera melupakan ketidak hadiran sang mama, lalu 10 bulan kemudian mereka akan tetaplah menjadi anak-anak yang tidak bermasalah, dan 10 tahun kemudian semua baik-baik saja, baik dari sisi karir dan kehidupan anak-anaknya. Itulah awal gagasan 10-10-10.</p>
<p>Sepuluh  (10) yang pertama pada dasarnya berarti “Saat itu juga”, itu bisa berarti dalam 10 menit, satu jam, satu minggu atau bahkan satu menit. Sepuluh (10) kedua mewakili suatu titik di masa depan yang belum terlalu jauh, ketika reaksi awal dari keputusan Anda sudah berlalu, tapi konsekuensi-konsekuensinya masih terjadi dengan cara-cara yang bisa Anda duga, bisa berarti 10 bulan, 1 tahun, atau bahkan 2 tahun. Sementara sepuluh (10) ketiga mewakili suatu waktu di masa mendatang yang fakta atau perinciannya sepenuhnya masih samar, bisa 10 tahun, 8 tahun, atapun 20 tahun.</p>
<p>Jurus 10-10-10 ini memang cukup banyak berhasil di terapkan orang yang merasa dalam kondisi sulit namun harus mengambil keputusan. Tetapi bukan berarti 10-10-10 hanya bisa dilakukan saat Anda merasa terjepit maupun terpaksa, karena banyak orang justru menggunakannya untuk pengambil keputusan sehari-hari. Tentu saja untuk menentukan langkah 10-10-10 diperlukan analisis. Semua data dan informasi yang Anda kumpulkan harus di analisis dengan cermat, dibandingkan dengan nilai-nilai diri Anda yang paling pribadi, keyakinan-keyakinan, sasaran-sasaran, mimpi-mimpi, dan kebutuhan-kebutuhan Anda. Pendeknya dengan langkah ini akan mendorong Anda untuk bertanya: “Dengan mempertimbangkan semua pilihanku dan akibatnya, keputusan apa yang akan paling membantuku dalam menciptakan sebuah kehidupan yang kurancang sendiri?”, Dengan menjawab pertanyaan tersebut, Anda memperoleh solusi 10-10-10 (halaman 24).</p>
<p>Para ahli sosiologi sudah lama sependapat bahwa pekerjaan adalah sumber utama identitas dalam kehidupan kita, yang memberi kita arah, tujuan, dan bertindak sebagai pengelola utama hari-hari kita. Demikian pentingnya pekerjaan yang menjadi dari bagian martabat kita yang kemudian menjadikannya sebuah kegiatan yang seringkali membutuhkan ketepatan kita dalam mengambil keputusan. Di sinilah 10-10-10 menjadi sebuah alat penolong dalam setiap langkah dan tindakan yang hendak kita ambil dalam menjalankan pekerjaan kita.</p>
<p>Tentu saja keputusan yang diambil dengan langkah 10-10-10 dalam urusan ini tidak semuanya tampak cemerlang pada awalnya. Bisa saja keputusan itu membuat gundah bagi pengambilnya, seperti alkisah Razvan, usahawan ulet keturunan Rumania. Razvan yang muda dan penuh semangat ingin membuka sebuah perusahaan telepon selular di negaranya. Masalahnya, pacarnya seorang pramusaji, Mihaela, sedang menunggunya di Bukarest, dan ingin terlibat dan ikut membuka perusahaan tersebut. </p>
<p>Masalahnya menurut Razvan sang kekasih ini tidak cakap mengelola keuangan. Lalu dengan metode 10-10-10, 10 menit pertama Razvan sebuah jawaban YA untuk kerjasama tersebut tampak mungkin masuk akal, dan jawaban TIDAK akan menimbulkan “Perang Dunia Ketiga”, istilah yang dipakai Razvan. Gambaran 10 bulan nampaknya lebih tegas, hasilnya akan buruk atas apapun pilihan yang akan dibuat. Jika mereka bekerjasama, kemungkinan akan terjadi pertengkaran demi pertengkaran atas sikap pengelolaan yang berbeda atas perusahaan tersebut. Namun bila mereka tidak jadi bekerjasama maka kemungkinan untuk berpisah juga nampak jelas. Ketika gambaran ke 10 tahun ke depan diambil, maka bayangan mengerikan lebih jelas: “Sebuah kehidupan yang setiap harinya diisi dengan pertengkaran-pertengkaran”. Menurut Razvan, apa yang dimiliki mereka berdua hanyalah masa lalu, dan bukan masa depan. Dengan itu keputusan Razvan melalui 10-10-10 telah dibuat. Apakah dia bahagia? Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga kebahagian tidak sekadar yang ada di depan mata, dan ada kebahagiaan lain yang sedang menunggunya.</p>
<p>10-10-10 juga bisa digunakan untuk melihat ketika karir Anda tampak tidak bergerak. Jika karir Anda tampak mandek, coba ingat kapan dan bagaimana hasil tinjauan kinerja terakhir Anda yang sesungguhnya. Jangan beranggapan bahwa kinerja Anda baik karena boss Anda tidak mengatakan sebaliknya. Dan ingat jangan menggunakan 10-10-10 untuk mengambil keputusan apakah Anda akan tetap tinggal atau pergi sebelum Anda memperoleh umpan balik yang jujur yang Anda butuhkan tentang kinerja Anda. Baru setelah itu Anda bisa menentukan apakah kemandekan Anda dapat diperbaiki, atau ternyata menyelamatkan diri adalah satu-satunya harapan (halaman 158).</p>
<p>Bagaimana? Sudah siap memainkan 10-10-10 dengan tangkas dan cantiknya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/03/04/resensi-buku/keputusan-di-tengah-kesulitan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Improvisasi dalam Karir, Pentingkah?</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/03/01/saya-dan-karir/improvisasi-dalam-karir-pentingkah/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/03/01/saya-dan-karir/improvisasi-dalam-karir-pentingkah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 08:57:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Saya dan Karir]]></category>

		<category><![CDATA[improvisasi]]></category>

		<category><![CDATA[inisiatif]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[kerja]]></category>

		<category><![CDATA[komitmen]]></category>

		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/2010/03/01/saya-dan-karir/improvisasi-dalam-karir-pentingkah/</guid>
		<description><![CDATA[
Sepuluh langkah mendapatkan ide inspiratif!
Lima langkah menjadi kreatif!
Sukses menghasilkan ide brilian!
Pernah menemukan kalimat seperti di atas? Saya yakin, kita semua – hampir semua&#8230; 99%, telah akrab dengan ajakan berikut saran operasionalnya. Jika Anda sempat mencermati beberapa pertanyaan konsultasi di web ini atau media sejenis lainnya, ada sedikit kenyataan menggelitik. Betapa banyak dan mudahnya manusia tenggelam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://konsultankarir.com/wp-content/uploads/2010/03/career_opp.jpg'><img src="http://konsultankarir.com/wp-content/uploads/2010/03/career_opp-300x214.jpg" alt="" title="career_opp" width="300" height="214" class="alignnone size-medium wp-image-590" /></a>
<p>Sepuluh langkah mendapatkan ide inspiratif!<br />
Lima langkah menjadi kreatif!<br />
Sukses menghasilkan ide brilian!</p>
<p>Pernah menemukan kalimat seperti di atas? Saya yakin, kita semua – hampir semua&#8230; 99%, telah akrab dengan ajakan berikut saran operasionalnya. Jika Anda sempat mencermati beberapa pertanyaan konsultasi di web ini atau media sejenis lainnya, ada sedikit kenyataan menggelitik. Betapa banyak dan mudahnya manusia tenggelam dan menenggelamkan diri dalam ’ritual’ kerja dan merasa yakin telah menjadi insan kreatif.</p>
<p>Jika seseorang melempar pertanyaan ”Siapakah Einstein?” Kita hampir pasti akan mendengar alunan koor ”Ilmuaaaan&#8230;,”  Jika si penanya tersenyum simpul dan tidak berkedip memandang mata kita, tahulah kita bahwa ia menginginkan jawaban lain. Sontak, kita pun akan menambahkan ”Perumus E=MC2&#8230;”. </p>
<p>Adakah yang mengatakan ”Guru biola” ?  Mungkin kening Anda akan berkerut. Ya, tidak banyak yang mengetahui ia juga seorang musisi alat musik gesek. Sangat wajar jika sebagian kita terkejut dengan informasi spesifik ini.</p>
<p>Ingatkah kita dengan satu kalimat, ”Jangan percaya pada ide pertama.” Saya harap telah banyak yang mengingat ini. Mengapa? Karena kata pertama yang muncul biasanya juga ada di kepala orang lain, alias rahasia umum. Bila kita sedikit berteori dengan perspektif psikologi, hal ini sangat lazim dalam proses kognitif setiap individu. Padatnya informasi serta ketatnya tuntutan pada kapasitas sel kelabu, menghasilkan strategi kognitif yang dikenal sebagai skema dan heuristik.</p>
<p>Kita mengenal Einstein dengan peredaran foto terbatas sehingga pose rambut acak-acakan lah yang membentuk skema atau kerangka mental kita tentang penampilan ilmuan. Perkembangan era sebenarnya telah menyajikan profil lain, seperti si kaca mata tebal dan baju laboratorium putih. Kita akan terhenyak ketika mendapati seorang ilmuan dengan celana jeans, kaos santai, pernak-pernik blink-blink dan nongkrong di cafe musik!</p>
<p>Begitu pula dengan dunia kerja yang kita jalani dari hari ke hari, tahun ke tahun. Kita sering nyengir kuda ketika ditagih awal tahun ”Apa resolusi karir tahun ini?” Banyak dari pelamar kerja yang tersipu-sipu alih-alih menjawab pertanyaan pewawancara ”Apa yang menarik dari pekerjaan Anda?” Tentu, si pewawancara ingin geleng-geleng kepala, tapi, sekali lagi, suasana positif menjadi salah satu media untuk optimalnya wawancara kerja. Maka, senyum menyemangati si pelamar yang akan tersaji, berharap mampu mendorong memori positif.</p>
<p>Jika kita tidak tahu titik menarik dari pekerjaan kita, bagaimana kita akan menciptakan inisiatif dalam bekerja dan berkarir? Sementara makna dari inisiatif adalah bertindak secara aktif lebih dari tuntutan pekerjaan dan berupaya untuk terus meningkatkan hasil pekerjaannya dengan tindakan-tindakan yang orisinal. Keterlibatan aktiflah yang membuat kita mengenali bagian-bagian mana dari rutinitas tugas harian yang bisa dikembangkan untuk lebih segar. Komitmen pun bicara di sini, apakah memang diperlukan improvisasi atau cukup memenuhi prosedur saja. Tentu, sebagian dari kita tidak akan puas dan mencari celah untuk menghidupkan rutinitas.</p>
<p>Pembahasan dalam hal ini telah melampaui ketrampilan teknis. Bagai seorang gitaris handal yang tidak perlu lagi memastikan jemarinya berada di senar yang tepat. Ia akan santai menyelipkan akord lain dalam deretan kunci lagu hingga tercipta aransemen yang berkarakter dan menarik. </p>
<p>Jadi, apa ide kreatif Anda hari ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/03/01/saya-dan-karir/improvisasi-dalam-karir-pentingkah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Konseptor menjadi Praktisi</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/02/25/blog/consultant-corner/ketika-konseptor-menjadi-praktisi/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/02/25/blog/consultant-corner/ketika-konseptor-menjadi-praktisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 01:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Consultant Corner]]></category>

		<category><![CDATA[artistik]]></category>

		<category><![CDATA[aturan]]></category>

		<category><![CDATA[emosi]]></category>

		<category><![CDATA[investigative]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[konseptor]]></category>

		<category><![CDATA[pola kerja]]></category>

		<category><![CDATA[praktisi]]></category>

		<category><![CDATA[rencana kerja]]></category>

		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>

		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/2010/02/25/blog/consultant-corner/ketika-konseptor-menjadi-praktisi/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Anda seorang yang senang menyusun rencana kerja? Melukis kotak-kotak kecil warna-warni, menata satu demi satu agenda, memastikan semuanya berada di tempat yang benar. Bak seorang komposer menempatkan satu demi satu not di tangga nada, mengalunkan lagu di relung imaginya. Setelah agenda itu rapi, senyum pun tersungging lega karena mapping telah berhasil. Pelaksanaanya? .. Hehehe&#8230;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Anda seorang yang senang menyusun rencana kerja? Melukis kotak-kotak kecil warna-warni, menata satu demi satu agenda, memastikan semuanya berada di tempat yang benar. Bak seorang komposer menempatkan satu demi satu not di tangga nada, mengalunkan lagu di relung imaginya. Setelah agenda itu rapi, senyum pun tersungging lega karena mapping telah berhasil. Pelaksanaanya? .. Hehehe&#8230;. sel-sel kelabu Anda justru menyodorkan pernak-pernik lain untuk segera dirumuskan dan ditata dalam kotak-kotak lain&#8230;.</p>
<p>Jika Anda salah seorang yang menikmati proses kerja di atas, tak ragu lagi, Anda memiliki kecenderungan masuk dalam kategori investigative dalam tipe Holland (lihat menu minat karir). Tipe ini berdekatan pula dengan artistik. </p>
<p>Rutinitas dan kemapanan seperti yang didengungkan orang kebanyakan adalah ranjau yang Anda hindari&#8230;. seraaaaaaam! Anda menikmati ruang putih untuk berloncatan, berdendang hingga melayang bebas. Anda selalu tergoda menata, lebih tepatnya merangkai ketidakteraturan menjadi keteraturan dalam versi Anda tentunya. Kebebasan berpikir dan berimaginasi menjadi kekuatan Anda!</p>
<p>Bagaimana jika Anda disodori kerapian dan kecil toleransi untuk diubah? Anggaplah&#8230; pilihan yang ada adalah <em>take it or leave it</em>&#8230; Masalahnya, karena kecenderungan Anda yang kurang peduli dengan keteraturan, kejutan ini benar-benar mengejutkan. Anda telah menandatangai kontrak satu tahun! Mundur? Karir Anda serasa di ujung tanduk&#8230; pilihan yang menantang untuk dijalani sekaligus untuk ditinggalkan. </p>
<p>Lalu bagaimana?  Jangan lupa, Anda adalah seorang pemikir alias konseptor yang boleh dikatakan ulung. Mungkin karena terlampau canggih, bahkan sebagian besar teman hanya akan mengangkat alis dan mengerutkan kening mendengar presentasi Anda. Satu komentar adalah <em>”Dasar teoritis&#8230;!”&#8230;. </em></p>
<p>Selalu ada celah untuk nafas kehidupan. </p>
<p>Berikut tahapan yang akan Anda lalui:<br />
(a) merasa kesal dengan ’kekakuan’ yang ’dipaksakan’ seolah meniadakan kreativitas dan keunikan manusia, contohnya Anda;<br />
(b) berpikir untuk segera menyudahi kerjasama yang baru dimulai&#8230; Anda paling ahli dalam hal ini, imagi menjadi <em>jet coaster </em>melompati ruang dan waktu;<br />
(c) &#8230; akhirnya, menjalani sambil mengutuki dalam hati, demi profesionalitas, rona wajah tetap bersinar semangat;<br />
(d) memberikan setengah hati, semakin terasa <em>’not me’</em>..;<br />
(e) sel kelabu mulai bergeliat menjadi diri sendiri dengan gerigi otak mulai berderak, melirik untuk mengenali medan sesungguhnya dan menyusun pilihan strategi&#8230;</p>
<p>Sahabat pun dipaksa untuk menjadi si bijak yang selalu siap menghadirkan tawa kecil, senyum penuh pengertian dan tepukan bahu menenangkan. Anda dan dia tahu pasti bahwa nasehat pada saat itu bukanlah rangkaian kata melainkan pelukan hangat bermakna <em>”You are not alone..”, <em>&#8220;You can do it&#8221;</em>&#8230;</p>
<p><p>Yang Anda lakukan setelah serangan panik adalah&#8230;<br />
(a) mengumpulkan informasi selengkap mungkin, menjawab setiap kekesalan hati dan pikiran;<br />
(b) menelusur peta yang begitu saja tersaji, kali ini benar-benar mencurahkan perhatian dengan hati lebih datar&#8230;</p>
<p>Anda pun akan melihat ruang yang tidak sesempit sebelumnya. Ternyata dibutuhkan beberapa titik penegas untuk peta itu lebih jelas terbaca dan menjadi teman perjalanan. Anda pun kembali bersemangat merancang semuanya. Termasuk alur logika argumentasi yang siap Anda komunikasikan dengan orang lain.</p>
<p>Aha&#8230;! Anda kembali menjadi si konseptor&#8230; pemikir yang berkelana menjelajahi segala kemungkinan. </p>
<p>Kita, manusia, tidak hanya makhluk rasional melainkan juga emosional. Emosi mempunyai hak untuk tampil dan ’meraja’ sesekali. Menerimanya akan membuat kita semakin mengenal dan membawanya kembali ’normal’ untuk bersama hidup dengan rasionalitas diri. Menjaga tetap menjadi manusia, yang mampu berucap terima kasih penuh hangat pada sahabat, bukan mesin. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/02/25/blog/consultant-corner/ketika-konseptor-menjadi-praktisi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fleksibel atau Plin-Plan?</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/02/22/saya-dan-karir/fleksibel-atau-plin-plan/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/02/22/saya-dan-karir/fleksibel-atau-plin-plan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 07:14:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Saya dan Karir]]></category>

		<category><![CDATA[baby boomer]]></category>

		<category><![CDATA[desainer]]></category>

		<category><![CDATA[fleksibel]]></category>

		<category><![CDATA[generasi X]]></category>

		<category><![CDATA[generasi Y]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi robot bukanlah cita-cita manusia, meski dengan segala daya upaya kita berusaha untuk membuat sistem serba tersambung dan sekali klik. 
Apakah Anda pernah menginginkan memiliki satu kotak yang mampu melakukan sepuluh hal sekaligus? Jika Anda seorang desainer produk, apakah Anda pernah mencoba merancang suatu kursi yang mampu berfungsi sebagai tempat tidur? Mungkin sudah banyak, bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi robot bukanlah cita-cita manusia, meski dengan segala daya upaya kita berusaha untuk membuat sistem serba tersambung dan sekali klik. </p>
<p>Apakah Anda pernah menginginkan memiliki satu kotak yang mampu melakukan sepuluh hal sekaligus? Jika Anda seorang desainer produk, apakah Anda pernah mencoba merancang suatu kursi yang mampu berfungsi sebagai tempat tidur? Mungkin sudah banyak, bagaimana jika bisa menjadi pintu rahasia menggantikan lemari dinding, sehingga Anda bisa langsung bersembunyi jika ada rekan kerja yang terlampau unik datang berkunjung? Tidak itu saja, Anda kemudian menambahkan alarm pemindai untuk mendeteksi adanya gempa, termasuk aroma makanan dalam radius sepuluh meter!</p>
<p>Atau, pernahkah Anda menyusun proposal kerjasama dan berpikir keras untuk langsung menawarkan tujuh poin sekaligus? Dalam pandangan Anda, calon klien akan dimudahkan dengan informasi komplit sehingga, jika menginginkan kerjasama lain bisa langsung melihat ’menu’? Lalu, rekan kerja Anda mengkritik untuk fokus pada kebutuhan yang diminta. Menurutnya, calon klien akan kebingungan melihat beragam penawaran itu. Kalau memang klien minta yang lain, tinggal disusun lagi proposal sesuai permintaan, begitu saran si kawan.</p>
<p>Apakah si desainer seorang yang fleksibel? Bagaimana dengan penyusun proposal? Atau rekan kerja yang mengkritik proposal kerjasama itu?</p>
<p>Kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan situasi dengan pendekatan yang berbeda untuk mencapai tujuan, adalah inti dari kompetensi fleksibilitas. Apa beda dengan plin-plan?</p>
<p>Kita sering menuntut fleksibilitas pada diri sendiri, rekan kerja, bawahan bahkan&#8230; bos! <em>”Kaku amat sih&#8230; ”</em>  Kurang lebih itu kalimat yang akan terlontar ketika menghadapi pimpinan yang menuntut ’ketepatan’ hasil kerja. Sementara,  kita pun akan bertambah pusing jika lawan diskusi menyusun proposal selalu mengiyakan alternatif yang kita kemukakan alias ngikut..</p>
<p>Isu perubahan hampir selalu mengikuti fleksibilitas dan sebaliknya. Dalam fleksibilitas terkandung ketrampilan beradaptasi dari satu titik ke titik lain. Menjadi fleksibel, tidak berarti menjadi ’tanpa bentuk’, sebab perubahan itu ada pada cara. Sementara tetap ada visi diri yang ditampilkan. Sebaliknya, kita akan disebut plin plan ketika tidak bisa menampilkan karakter diri dan menyerahkan ’tanggung jawab’ pada orang lain.</p>
<p>Pertanyaan yang cukup mengusik adalah, apakah fleksibilitas merupakan sifat dasar kita atau skill? Apakah ia merupakan proses yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari dari kecil ataukah memang telah ada secara gen? Berderet penelitian mencoba menguak ini, meski banyak yang lebih mengarahkan pada kepribadian seperti terdapat pada alat tes <em>the Big Five Personality</em>. </p>
<p>Terbuka terhadap perubahan menjadi salah satu penjelas apakah seseorang itu fleksibel atau tidak. Secara logika, tidak ada satu pun anak manusia yang tidak mengenal perubahan, karena perubahan itu telah berlangsung dari hari ke hari baik secara biologis maupun sosial di sekitarnya. Jadi, mungkinkah setiap orang fleksibel?</p>
<p>Mungkin. Namun setiap lingkungan memiliki ukuran sendiri untuk menyatakan seseorang fleksibel atau kaku. Maka, sebenarnya label seseorang bisa beragam dari satu tempat ke tempat lain. Uniknya, kita sendirilah yang mengkonfirmasikan dan ’mengukuhkan’ label itu. Selanjutnya, konsistensi sikap dan perilaku lah yang akan menggiring kita pada label diri secara internal dan mendefinisikan ’siapa saya’. </p>
<p>Fenomena slash career  dan generasi Y sangat kental dengan isu fleksibel. Apakah karena ia fleksibel kemudian memilih ber- slash career, yakni menjalani lebih dari satu profesi sekaligus. Apakah generasi Y (lahir 80 ke atas) dengan ketersediaan teknologi, informasi berlimpah dan kecepatan waktu, menjadi lebih fleksibel dari generasi X? Ataukah generasi <em>baby boomers </em>yang fleksibel karena mampu bekerjasama dengan generasi-generasi di bawahnya?</p>
<p>Pada konstelasi generasi manakah Anda? Fleksibel kah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/02/22/saya-dan-karir/fleksibel-atau-plin-plan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dilematis Romantis</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/02/19/blog/curahan-hati-seorang-perempuan/belajar-mikir-part-2/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/02/19/blog/curahan-hati-seorang-perempuan/belajar-mikir-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 01:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tyas</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Curhat Kaka]]></category>

		<category><![CDATA[angka]]></category>

		<category><![CDATA[bos]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<category><![CDATA[gitar]]></category>

		<category><![CDATA[input data]]></category>

		<category><![CDATA[kompetisi]]></category>

		<category><![CDATA[persaingan]]></category>

		<category><![CDATA[tugas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/2010/02/19/blog/curahan-hati-seorang-perempuan/belajar-mikir-part-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini Kaka benar-benar bete dan ingin nimpuk Didi. Pasalnya… lha ini yang repot, orang lagi kelimpungan kesal masih diminta ngapalin pasal, secara Kaka paling kacau kalo diminta apal menghapal… mending makan kapal selam deh! Sebaliknya Didi paling ahli mengacau angka-angka, beri dia tugas menempatkan angka, yang ada angka-angka itu berjumpalitan. Terlalu banyak berasosisai bebas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini Kaka benar-benar bete dan ingin nimpuk Didi. Pasalnya… lha ini yang repot, orang lagi kelimpungan kesal masih diminta ngapalin pasal, secara Kaka paling kacau kalo diminta apal menghapal… mending makan kapal selam deh! Sebaliknya Didi paling ahli mengacau angka-angka, beri dia tugas menempatkan angka, yang ada angka-angka itu berjumpalitan. Terlalu banyak berasosisai bebas sih…. Itu dia sebab musabab kegeraman ini. Bayangkan saja, kalo lagi nyanyi-nyanyi aja dia pake berteori tentang not yang naik setengah lah.. <em>“Itu namanya kres.. bunyinya kaya snack itu.. kresss.. kreesss, yang turun itu mooool,” </em>sambil memajukan bibirnya sepuluh senti.</p>
<p>Ih… nyebelin ga. Tapi Kaka dilematis abisss… kalo ia nekat nimpuk Didi pake kipas anginnya yang imut berwarna pinky, yang selalu dipandangi putaran baling-balingnya itu.. Didi bakal menghentikan total les kilat gitarnya. Padahal ini usaha untuk bisa dekat ama si Akang berparas Iwan Fals.. bernama Iwang… alias bos baru di kantor. Nah&#8230; si guru gitar gadungan ini paling dodol kalau urusan angka&#8230; kacau deh. Input data… wadddduhhhh… Kaka hampir mati berdiri. Ia harus mengoreksi satu per satu kerjaan bertumpuk itu. Tadinya ia pikir cuma keliru satu, eh&#8230; ada lagi.. eh&#8230; masih ada lagi dan lagiii&#8230;. yahhhh  <em>”Ini mah gue yang ngerjain&#8230;,”  </em>Kaka cuma bisa mengacak-acak rambutnya pasrah.</p>
<p><em>”Kan gue udah bilang, gue ga cinta ama angka&#8230;,” </em>ujar Didi santai. Ia memainkan jemarinya mengetuk-ngetuk meja menciptakan nada yang bagi Kaka tidak terdengar sedikitpun seperti nada.. tuk tuk tuk&#8230; <em>”Lu konsen dong, mikirin apa aja sih..,” </em>Kaka masih mencoba manis, maklum murid dan guru. Alis Didi terangkat, dahinya berkerut dan matanya menatap Kaka heran, <em>”Mikir? Kata mikir itu lebih banyak bikin stress, let it flies aja..”</em> balas Didi tenang.</p>
<p>Uughh.. gimana Kaka ga bete. Namun terbayang si Iwan Fals baru di kantor.. duh.. kemaren dia cekikikan ama Didi sambil memainkan gitar di lobi. Gila&#8230; persaingan kenapa tidak lihat tempat sih? Ia ingin bergabung tapi kakinya serasa tertanam sekian meter ke dalam. Untunglah sore ini Riri dan Mimi akan nyamperin untuk sejenak hura-hura&#8230; meski&#8230; Didi ikut juga huuu&#8230;***</p>
<p><em>”Lu kenapa sih Ka, dari tadi manyun aja. Dia kenapa Di?”</em> Mimi melempar pertanyaan yang setengah tepat setengah telak. <em>”Hah.. tauk,” </em>Didi mendongakan kepala, memandang Mimi bingung lalu kembali menelusuri daftar menu makanan. Tiba-tiba Riri tergelak.. <em>”Hahaha.. pasti dia lagi dongkol ama Didi, lu bikin masalah apa lagi Di?”</em> Didi masih cuek tak melepaskan tatapan ke gambar warna-warni menu di hadapannya.</p>
<p>Kaka juga lagi malas ngomong, sebenarnya ia sudah merencanakan membeberkan semua fakta ke sahabat-sahabatnya ini. Tapi terbayang si Akang .. duuuh&#8230; <em>”Gimana si bos baru, Ka?” </em>Mimi lagi-lagi melempar pertanyaan yang entah disengaja atau tidak disesuaikan dengan gelombang otak Kaka yang lagi melayang ke sana&#8230;</p>
<p><em>”Gitu deh&#8230;”</em> Kaka s<em>peechless</em>.. Ia sedang mikir gimana caranya memaksa Didi untuk kembali belajar berhitung seperti anak SD. Emang sih, kalau dipikir-pikir.. dia baik juga, meski bersaing tapi mau ngajarin gitar, <em>fair</em> gitu. Tapi, Didi tetap harus belajar merapikan angka dengan baik dan benar, bukan cuma satu sampe tujuh do re mi itu&#8230; . Cuma gimana caranya ya&#8230;.aaaah&#8230;, ia ingat di kantor ada ruang meeting kecil untuk internal. Apa di sana aja, ia harus berlatih pake sempoa&#8230;..hihihi.. tanpa sadar Kaka senyum-senyum sendiri. Ini yang kemudian memancing Riri beraksi.</p>
<p><em>”Udaaaah, embat aja,keren kan dia&#8230; , eh, les gitarnya udah nyampe kunci apa?”</em> giliran Riri yang menginterogasi Kaka. Duuh&#8230; kenapa semua nanyain dia, eh kan dia yang minta untuk <em>hang out </em>sore ini. Pasti mereka sudah tak sabar mendengar kisah-kisahnya.. <em>”Gurunya eror gitu.. yang ada kunci gembok, ”</em> balas Kaka malas-malasan. </p>
<p>Agaknya kali ini Riri dan Mimi sepakat kalau Kaka lagi kerasukan cinta. Mereka bukannya bersimpati tapi semakin terkekeh.. Sementara Didi cengar-cengir aja sambil memandang penuh arti ,<em>”Persaingan baru dimulai&#8230;”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/02/19/blog/curahan-hati-seorang-perempuan/belajar-mikir-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadapi wawacara kerja dan menghadapi orang baru</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/02/18/konsultasi/menghadapi-wawacara-kerja-dan-menghadapi-orang-baru/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/02/18/konsultasi/menghadapi-wawacara-kerja-dan-menghadapi-orang-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 05:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfin Wahyu Madya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<category><![CDATA[fresh graduate]]></category>

		<category><![CDATA[gugup]]></category>

		<category><![CDATA[informasi]]></category>

		<category><![CDATA[interview]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[kerja]]></category>

		<category><![CDATA[orang baru]]></category>

		<category><![CDATA[persiapan]]></category>

		<category><![CDATA[wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[
Saya adalah fresh graduated yang sedang mencari pekerjaan,dalam setiap interview selalu gugup dan kurang pandai mengemukakan pendapat, saya mohon tips nya&#8230;.
Erfin Wahyu Madya
Dear Erfin
Yang jelas tidak ada ramuan instan untuk mengubah perilaku individu, namun ada banyak jalan untuk segera memulai hal tersebut.  Coba evaluasi, bagaimana Anda menyiapkan proses interview tersebut. Kesiapan ‘materi’ dan kondisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>
<p>Saya adalah fresh graduated yang sedang mencari pekerjaan,dalam setiap interview selalu gugup dan kurang pandai mengemukakan pendapat, saya mohon tips nya&#8230;.</p>
<p>Erfin Wahyu Madya</em></p>
<p>Dear Erfin</p>
<p>Yang jelas tidak ada ramuan instan untuk mengubah perilaku individu, namun ada banyak jalan untuk segera memulai hal tersebut.  Coba evaluasi, bagaimana Anda menyiapkan proses interview tersebut. Kesiapan ‘materi’ dan kondisi fisik (sehat, segar, atau sedang dalam kondisi kelelahan atau sakit) memberikan pengaruh yang bisa jadi fatal.</p>
<p>Beberapa pertanyaan untuk diri sendiri menjelang interview;<br />
(a) Informasi apa saja yang telah saya dapat terkait perusahaan ini?<br />
(b) Bagaimana gambaran umum jobdes posisi yang saya lamar?<br />
(c) Apakah saya telah membaca ulang surat lamaran, CV dan resume yang saya kirim?<br />
(d) Apa yang menarik dari posisi yang saya lamar?<br />
(e) Bagaimana gambaran aktivitas kerja yang saya inginkan?<br />
(f) Apakah saya telah mengumpulkan informasi terkait gaji yang mungkin akan ditawarkan/dinegosiasikan?<br />
(g) Apa saja pertanyaan yang biasa ditanyakan di interview kerja, khususnya untuk fresh graduate ?</p>
<p>Ada banyak informasi yang bertebaran di internet tentang interview. Kadangkala kita menjadi kebingungan dan semakin membuat gugup. Tips sederhana, fokuslah pencarian dan ’abaikan’ informasi lain yang ’ditawarkan’. Semoga Anda mendapatkan pekerjaan yang menjadi karir idaman. Semoga bermanfaat &#038; terima kasih.</p>
<p>Salam,<br />
Ardiningtiyas</p>
<p>This post was submitted by Erfin Wahyu Madya.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/02/18/konsultasi/menghadapi-wawacara-kerja-dan-menghadapi-orang-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gagal psikotes</title>
		<link>http://konsultankarir.com/2010/02/16/konsultasi/gagal-psikotes/</link>
		<comments>http://konsultankarir.com/2010/02/16/konsultasi/gagal-psikotes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 03:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Angga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<category><![CDATA[HR]]></category>

		<category><![CDATA[jobdes]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[kompetensi]]></category>

		<category><![CDATA[konsultan]]></category>

		<category><![CDATA[PLN]]></category>

		<category><![CDATA[psikotest]]></category>

		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultankarir.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[
Saya 2x gagal dalam menghadapi psikotes PLN, saya bingung salah nya apa, dan dimana,
Mohon bantuan nya dengan memberikan tips2 menghadapi psikotes.
Angga
Dear Sdr. Angga,
Memang tidak sesederhana kelihatannya dalam menghadapi psikotes. Karena psikotest sendiri bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang diri seseorang di luar prestasi akademik (pendidikan). Maka, laporan psikotest berisi rekomendasi tentang kekuatan dan potensi seseorang. Dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>
<p>Saya 2x gagal dalam menghadapi psikotes PLN, saya bingung salah nya apa, dan dimana,<br />
Mohon bantuan nya dengan memberikan tips2 menghadapi psikotes.</p>
<p>Angga</em></p>
<p><strong>Dear Sdr. Angga,</strong><br />
Memang tidak sesederhana kelihatannya dalam menghadapi psikotes. Karena psikotest sendiri bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang diri seseorang di luar prestasi akademik (pendidikan). Maka, laporan psikotest berisi rekomendasi tentang kekuatan dan potensi seseorang. Dari point ini, diharapkan perusahaan akan dapat mempertimbangkan apakah dapat memenuhi kriteria yang diperlukan dalam jobdes, sesuaikah dengan lingkungan perusahaan (iklim dan style yang tidak sama antara satu perusahaan dengan lainnya, meski satu lingkup bisnis). Seringkali psikotest merupakan rangkaian dari proses asessment rekrutmen yang juga menggali kompetensi (kombinasi antara ketrampilan, pengetahuan dan sikap kerja). Dalam proses ini, konsultan juga akan memberikan rekomendasi kesesuaian antara kompetensi yang dimiliki dan diperlukan.</p>
<p>Sayang sekali tips yang akan Anda dengar begitu klise namun realistis. Anda perlu menyiapkan diri sesegar mungkin agar dapat menampilkan kristal-kristal diri Anda. Kristal-kristal ini telah Anda &#8216;pelajari&#8217; secara bertahun-tahun, bahkan sebelum Anda mengenal bangku sekolah. Semoga bermanfaat, tetap semangat. Terima kasih.</p>
<p>Salam,<br />
Ardiningtiyas</p>
<p>This post was submitted by Angga.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultankarir.com/2010/02/16/konsultasi/gagal-psikotes/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
