Belajar Peduli
Jun 4th, 2010 | By andin | Category: Curhat Kaka“Menurut lu peduli itu apa?” tanya Kaka pada Mimi saat mereka sedang makan siang bareng.
“Peduli? Hmm.. apa ya? Kakaknya pamali kali,” Mimi menjawab asal bunyi, sambil tertawa sendiri. Orang lagi laper ditanyain abstrak-abstrak gitu, siapa yang gak bete.
“Menurut lu sendiri apa? Kok tiba-tiba nanya yang aneh-aneh gitu,” balas Mimi bertanya.
“Menurut gue peduli itu semacam perhatian yang tulus. Tapi perhatian itu apa ya? Temen gue bilang lebih penting menjadi orang yang peduli dibanding menjadi orang baik. Menurut lu gimana?” tanya Kaka serius. Tumben.
“Pertanyaan lu kali ini agak berisi, abis kerasukan apa?” komentar Mimi tiba-tiba. Kaka mendelik. Halah. Memang susah ya, baru mau jadi orang yang agak lebih cerdas dikit, sudah dicela. Tapi disitulah tantangannya.
“Peduli mungkin berkaitan dengan empati. Kalau dibilang lebih penting menjadi orang peduli daripada menjadi orang baik, ya mungkin aja. Menurut lu sendiri, mungkinkah ada orang yang bisa menjadi baik, tanpa menjadi peduli?” tanya Mimi balik.
“Mungkin aja, ” jawab Kaka ringan.
“Kita dikatakan orang baik karena orang lain yang mengatakan itu. Kebaikan yang kita lakukan selalu mengandung intensi, kalau intensinya didasarkan untuk kepentingan sendiri, tanpa memikirkan kepentingan orang lain, apakah dapat dikatakan kita orang baik? Bukankah berarti sebenarnya kita orang yang gak peduli?
Contohnya ada orang memberikan sedekah karena ingin dipandang sebagai orang kaya, bukan karena peduli dengan orang yang ia beri sedekah. Jadi sebenarnya ia orang baik atau tidak? Si penerima mungkin mengatakan ia orang baik, tapi apakah ia sebaik itu? Jadi kebaikan itu apa? kepedulian itu apa?
Kalau begitu apakah ada orang yang peduli, tanpa menjadi orang baik? Kaka berpikir dalam hatinya sendiri. Hmm…
Kayaknya bakal tambah ribet deh. Segini dulu aja deh belajarnya. Pengetahuan Kaka juga cuma segitu. Hehehe…
Apakah Anda peduli dengan keribetan Kaka? :).










