Belajar Politik

Jan 29th, 2010 | By andin | Category: Curhat Kaka

Sore yang sejuk di penghujung minggu, Kaka dan cs-nya sedang berkumpul di pojok sebuah cafe.  Setelah berkutat seharian dengan pekerjaan yang rasanya tak pernah habis, berbagi cerita dan bersenda gurau merupakan obat yang tak ada duanya untuk membangkitkan semangat.  Semangat ketawa-ketiwi pengganti hari-hari tegang. 

Pembicaraan mengarah ke pansus Century. Ini topik hot dan aktual, siapa sih yang gak tahu topik ini. Walau tidak ada satupun dari mereka yang ahli politik, rasanya gak mungkin tidak ngomongin hal ini. Apalagi untuk Riri dan Didi, dengan slash career mereka sebagai  dosen, pastilah ini hal menarik untuk dibahas.

“Bicara politik, bicara kepentingan. Kepentingan siapa? Yang pasti kepentingan orang banyak lah.. Bukan kepentingan seseorang yang punya kuasa atau kepentingan segelintir orang saja.  Jika politik tidak membela kepentingan orang kebanyakan atau masyarakat atau rakyat, berarti bukan politik, tapi dagang,” terdengar Riri berkata lugas.  Kalau ngomongin politik memang Riri yang paling jago, ia paling kritis diantara mereka berempat. 

“Kok dagang?” terdengar suara Mimi menyahut heran.

 ”Iya, Mi.. dagang.  Masak lu gak tahu dagang? Ada pembeli dan penjual gitu kan maksudnya, Ri?,” sahut Kaka ringan. Tahunya cuma segitu, tapi sotoy.

“Terusin, Ka,” Riri menyahut.  Yang disahutin pura-pura bego, sibuk baca menu. Terusin apanya, tahunya segitu doang..

“Gini, gue tahu, ” Didi tiba-tiba menimpali.  “Politik itu kan membela kepentingan orang banyak.  Untuk membela kepentingan orang banyak, tentunya harus menomor-duakan kepentingan pribadi atau kepentingan partai.  Nah, dagang, cuma mementingkan kepentingan dua pihak atau pihak-pihak yang berkepentingan, gak ada tuh yang namanya kepentingan orang banyak atau kepentingan rakyat atau kepentingan masyarakat.  Jadi jika dua pihak tersebut sudah sama-sama puas, selesai. Jadi gak ada politik, adanya dagang.”  Didi ternyata penggemar politik juga.

“Ow.. jadi bedanya politik dan dagang  di pihak-pihak yang terlibat ya?  Siapa membela siapa? Kepentingan orang banyak atau kepentingan pihak tertentu saja? Jadi kalau yang dibela hanya kepentingan partai, jadinya dagang politik dong,” Mimi kali ini bisa tersenyum mengerti.

“Jadi di Indonesia, baru sampai tahap dagang politik ya? Belum ke tahap politik yang sebenarnya? Terus apa yang membedakan kalau kita sudah sampai ke tahap politik yang sebenarnya?” tiba-tiba Kaka bersuara lagi. Senang bisa ikutan ngomong lagi.

“Membela kepentingan rakyat itu cuma butuh satu. Hati nurani.  Hanya hati nurani yang bisa mengatakan ini benar dan itu salah, yang sebenar-benarnya.  Benar dan salah bisa diutak-atik dengan logika, yang salah bisa benar, dan yang benar bisa salah.  Tapi jika hati nurani yang bicara, maka itulah benar yang sebenar-benarnya atau salah yang sesalah-salahnya,” Didi berkata pelan tapi lugas.  Gak nyangka juga dibalik gayanya yang super cuek, ternyata ada otaknya juga.   Ya iyalah, namanya juga manusia, bukan panci.

“Berat ya,” Kaka bersuara lagi.

“Gak berat, orang yang punya hati nurani, hidupnya malah simpel dan ringan.  Karena tolok ukurnya kan sudah jelas,” Riri menyahut spontan.

“Bukan itu.  Piring ini berat banget, materialnya apa sih?” Kaka sedang mengangkat piring salad yang telah tandas untuk dipindahkan ke meja sebelah. 

“Terus gimana dengan politik kantor, Ri?” Kaka melanjutkan, gak enak kalau Riri ngambek.  Padahal kan tadi gak sengaja.

“Apanya yang gimana? Sama saja, politik ya politik, dimanapun, lihat kepentingannya aja,” sahut Riri sebal. 

“Gue rasa gak ada satu tempat kerjapun yang bebas dari politik, bahkan di sekolah atau universitas sekalipun ada politiknya sendiri.  Yang penting gimana kita yang ada di dalamnya mampu bersikap,” Mimi menengahi.

“Bersikap apa?” Kaka masih belum mengerti.

“Bersikap sebagai diri sendiri dengan karakter diri yang kuat, memiliki prinsip, dan nilai-nilai sehingga tidak terombang-ambing dengan beragam kepentingan yang ada di kantor. Gitu kan Ri?,” lanjut Mimi meminta persetujuan Riri.

“Betul.”

“Apanya yang betul?” tanya Kaka lagi.

“Ka, elu ke sungai aja gih…,” Kata Mimi sinis.  Ye.. orang bingung kok disuruh ke sungai. Emang mau nyuci.

“Bukan ke laut? Biasanya lu nyuruh ke laut.  Laut sudah penuh ya?” Kaka berkata sambil mengerlingkan mata.  Bukan Kaka kalau gak bisa bikin orang jengkel.

——————————

Politik dimanapun sama, selalu ada kepentingan di dalamnya. Sebagai pekerja kantor, kita juga punya kepentingan, jadi kita juga tidak akan bebas dari politik di kantor. Nah bagaimana kepentingan kita ini bisa sejalan dengan kepentingan kantor atau kepentingan orang-orang yang bekerjasama dengan kita, harus dicari titik tengahnya. Kadang dilematis, tapi tetap ada solusi, apalagi jika sudah pakai hati nurani. Kalau gak mau, jadi aja seperti Kaka yang susah ngertinya, mungkin dengan begitu hidup jadi lebih ringan.  Kaliiiiii…….. :)

Tags: , , , , , , ,

Leave Comment