The Accelerated Trainer – Revolusi Pelatihan Sukses dengan Teknik Accelerated Learning
Oct 19th, 2009 | By Pipit | Category: Resensi BukuPenulis: Lex McKee – The Master Trainer & Creative Director of Buzan Centres
Penerjemah: Mustofa B. santoso
Penerbit: Kaifa (Mizan Group), Juni 2008
Hal.: 203 (termasuk lampiran + indeks)
Harga: Rp.89.000.00, hardcover
Peresensi: Ardiningtiyas P.
Dua burung Inggris, blue tit dan robin adalah penjarah ulung susu yang diantar di berbagai wilayah Inggris. Sumber makanan yang tidak alamiah bagi mereka, namun telah diadaptasi oleh pencernaan mereka baik. Mereka merusak segel perak/timah botol untuk mencuri minuman lezat yang ada di bawahnya. Menariknya, tidak semua burung robin mampu melakukan ini, sebaliknya setiap burung blue tit mampu melakukannya.
Rahasianya: bukan taraf kecerdasan yang berbeda melainkan blue tit adalah burung sosial, dan burung robin merupakan burung protektif. Burung blue tit adalah pembelajar kelompok, membagi kebiasaan terbaik mereka. Sementara burung robin adalah pembelajar tunggal, membatasi kebiasaan terbaik sebagai ‘rahasia dagang’ untuk diri sendiri (h.71-72).
Ilustrasi di atas hanya satu bagian kecil yang menarik dari buku Mckee. Seorang Buzan Master Trainer yang selama 6 tahun bertanggung jawab atas berbagai pelatihan para trainer di Inggris. Ia sendiri telah berada di dunia bisnis pelatihan sejak tahun 1982. Entertainment, menjadi keyakinannya sebagai kunci proses pembelajaran yang menyenangkan dan mengikat.
Riset tentang dua burung penjarah di atas pula yang memberi penjelasan pentingnya pembelajaran kelompok (pelatihan). Karena pada dasarnya belajar adalah proses unik yang tidak dapat secara kaku dibingkai kondisinya, meski secara umum dapat dirumuskan. Setiap diri bisa menjadi pembelajar ulung, semakin banyak sumber, semakin beragam stimulus, semakin banyak kemungkinan indera yang dilibatkan, semakin beragam jenis kecerdasan yang disentuh.
Dalam pelatihan, trainer dan materi bukanlah sumber tunggal. Peserta lain pun berperan kurang lebih sama. Bola lampu dapat bersinar terang di kepala Anda kala melihat kepiawaian rekan peserta lain, pun kesalahannya. Anda bisa saling tertawa dan menertawakan tanpa terlalu khawatir. Proses pembelajaran hanya akan efektif dalam kondisi santai, namun sadar.
Apa yang dimaksud dengan Accelerated Learning? Georgi Lozanov dipandang layak sebagai penemunya. Dia menggunakan pendekatan bernama ”Suggestopaedia” yang secara luas berfokus membantu setiap pembelajar menghilangkan berbagai hambatan ’yang dipaksakan pada-diri-sendiri’ dalam pembelajaran. Model pembelajaran ini menawarkan sebuah kerangka kerja sebagai gambaran besar yakni: M.E.S.S.A.G.E., adalah mnemonik untuk Mindset, Entrance, Switch-Ownership, Store, Act, Go-Again, dan Engage(h.19).
Mindset (pemolaan pikiran) dalam pelatihan dimulai jauh sebelum para trainer berada di tengah-tengah antusiasme partisipan. Untuk mewujudkan kesenangan, yang menjadi pembelajaran ini, maka kontak pra-pelatihan menjadi penting. Manfaatkan e-mail atau … telepon, sebuah cara yang memiliki energi lebih personal dan dinamika interaksi lebih tinggi (h.32).
Pemolaan pikiran dimulai lebih awal melalui penataan serangkaian harapan yang bijak dan penggunaan komunikasi yang maju. Dalam bab awal ini Anda akan mendapatkan rahasia untuk merevolusi penataan ruang pelatihan untuk memberikan pesan segar, bahwa pelatihan ini berbeda dan special. Anda juga akan dibimbing untuk menyiapkan daftar musik untuk menambah penandaan sonik di beberapa bagian dan transisi pembelajaran.
Entrance. Jalan masuk merupakan istilah yang menjelaskan bagaimana seorang trainer akan membuat gambaran besar yang mendorong, menarik, menyeluruh dan menggerakkan. Kreatif, menjadi kata kunci untuk menghidupkan semua indra pada tiap gagasan kunci pelatihan!
”Makin banyak cara Anda mengajar, makin banyak orang yang Anda jangkau,” kata Colin Rose. Pembelajaran ini menawarkan VHF yang merupakan singkatan Vision, Hearing, Feeling. Ketika trainer mampu menyajikan informasi segar pada ketiga indra dominan ini, secara harfiah akan menjadi ”menjalankan (menghidupkan) indra dan masuk akal” (h.74).
Peranan waktu jeda setiap 45 menit juga harus diperhatikan, hanya dua – empat menit sudah cukup. Langkah kecil ini berjasa memaksimalkan dua sahabat memori yakni kepertamaan dan keterakhiran. Artinya, kita cenderung mengingat yang awal dan akhir. Pengabaian waktu jeda akan mendatangkan bonus: sakit kepala, emosi meledak-ledak, dan periode kelalaian. McKee menyebutnya “klub gangguan otak” (h.81).
Switch-ownership. Kini trainer harus memfasilitasi para pembelajar untuk mengambil kendali bagaimana mereka mempersonalisasi informasi yang baru. Ketika seorang anak kecil dengan penuh semangat menceritakan buku cerita yang baru saja dibacanya dengan bahasa sendiri, lengkap dengan peragaan aksi tokoh kesayangannya, maka ia telah memahami dan mempersonalisasikan ’pelajaran’ itu.
Tugas trainer adalah merancang pelatihan yang cerdas. Model kecerdasan majemuk dari Howard Gardner lah kuncinya. Kecerdasan matematis/logis, linguistik, visual/spasial, fisik, intrapersonal, interpersonal dan musik. Adanya kecenderungan pada indra tertentu juga terjadi pada kecerdasan tertentu. Karenanya pelatihan yang cerdas memiliki jangkauan luas dan beragam sehingga dapat di’ubah’ secara personal dalam keunikan diri peserta.
McKee menuliskan bahwa ketika para pembelajar mengambil pemilikan dan tumbuh dengan pembelajaran mereka sendiri, tidak mengherankan jika yang muncul tidak terlihat seperti yang kita taburkan sebelumnya (h.96)!
Store. Jika peserta telah mempersonalisasikan pembelajaran, maka proses pelekatan menjadi keniscayaan. Proses ini terkait dengan penyusunan berbagai pemicu secara alami yang akan memungkinkan kita mengingat kembali hingga 100% apapun yang telah kita pelajari.
Teknik Pemetaan Pikiran karya Tony Buzan merupakan teknik terbaik yang diakui McKee karena berakar pada prinsip memori. Mungkin sebagian dari Anda sudah sering mempraktekan teknik ini yang secara detil ilustrasinya dapat ditemukan di h.102.
Act. Saatnya beraksi dan tunjukkan! Waktunya memberi kesempatan pada para pembelajar untuk mendemonstrasikan ketrampilan mereka. Tujuan utamanya: meningkatkan kepercayaan diri dan meningkatkan kompetensi mereka.
Imajinasi menjadi kuncinya. Implementasinya adalah buatlah cara yang berbeda dan menyenangkan. McKee menyodorkan berbagai alternatif aktiitas, di antaranya ’saling tantang’ antar tim peserta. Bentuk kelompok dan ajukan permainan kisi-kisi yang berhubungan dengan materi (h.124).
Go-again. Alirkan! Tahap penutup ini merupakan kunjungan kembali perjalanan pembelajaran untuk menguatkan rasa akrab pada materi yang baru. Targetnya adalah kompetensi tak sadar di mana terintegrasinya pembelajaran secara mendalam sehingga menjadi ’sifat ke dua’ diri peserta.
Bawalah peserta ke gelombang theta. Gelombang yang terkait dengan relaksasi mendalam, persis ketika Anda benar-benar hampir tertidur. Boleh dikatakan, di sinilah kunci bekerjanya transfer keahlian dan pengetahuan. Sayangnya, banyak trainer meninggalkannya dengan alasan kepadatan jadwal pelatihan (h.132)!
Banyak informasi mengenai cara kerja memori dalam buku ini yang tersaji dalam mnemonik menarik. Selain MESSAGE, Anda akan menemukan KISS (keep it short & simple), aieou (association, emphasis, imagination, order, unusual) sebagai prinsip inti memori. McKee juga melampirkan daftar sumber dan kontak yang berguna, daftar musik yang disarankan serta bacaan lebih lanjut.
Siapapun Anda, selama mendedikasikan diri sebagai pembelajar, layak menikmati buku ini!











