Unlimited Potency of the Brain - Kenali dan Manfaatkan Sepenuhnya Potensi Otak Anda yang Tak Terbatas
Sep 12th, 2009 | By Pipit | Category: Resensi BukuPenulis : Dr.Taufiq Pasiak
Penerbit : Mizan, 2009
Halaman : 436 + xviii
Harga : Rp. 73.000
Peresensi : Ardiningtiyas
Tidak berlebihan jika menyematkan label ’ensiklopedia kecil’ otak – psikologi –spiritual pada buku ini. Perpaduan tiga bidang itu begitu kental dan segera mendapatkan rasionalisasi ketika melihat siapa penulisnya. Dr.Taufiq Pasiak menekuni tiga bidang ilmu yakni kedokteran dan kesehatan, pendidikan serta psikologi agama (pengalaman spiritual).
Pembaca dibawa berpetualang dengan bahasa yang renyah (jauh dari filosofis) menelusuri bagian-bagian otak hingga teori psikologi. Kelebihan lainnya, buku ini bisa dinikmati secara ’acak’ seperti ensiklopedia, berbeda dengan buku kesehatan terlebih tentang otak/neurologi yang harus berurut dan ’berat’.
Memang, penulis buku ini tetap disiplin membuka dengan pengantar tentang sifat otak dari sisi temuan neurosains. Bagi Anda yang pernah belajar bagian-bagian otak di biologi masa SMA ataupun kuliah (seperti psikologi faal), bagian ini merupakan nostalgia. Anda akan bertemu kembali dengan istilah-istilah biologi (bahasa Latin), lengkap dengan gambar berliku otak manusia. Hemisferik asimetris (otak kanan-kiri), sel otak, saraf, otak lelaki-perempuan, hingga bagaimana belajar memakai otak.
Otak adalah sebuah sirkuit, bayangkan jaring laba-laba, begitulah sirkuit otak manusia. Sirkuit otak berfungsi untuk memindah informasi dan bisa berubah-ubah (h.78). Tiga sistem fungsional otak adalah kognitif (sensorik – sistem thalamocortical); emotif ( sistem limbik) dan motorik (sistem ganglia basalis) (h.98).
Terkait dengan spiritualitas, buku ini membahas temuan beberapa temuan penting saintis di bidang otak, seperti God Spot atau God Modul oleh Dr.Ramachandran (2003). Penemuan ini menggambarkan bagaimana pengalaman mistis dari sudut pandang proses di otak. Kutipan kisah Nabi Muhammad SAW ketika mendapatkan wahyu pertama hingga kisah Paulus (2 Korintus 12:7-9) yang semula bernama Saulus, seorang Parisi Yahudi hingga menjadi Kristen (h.144-145).
Tokoh-tokoh psikologi positif seperti Martin Selligman dan Mihalyi Csikzentmihalyi juga akan Anda temui di bab 15, dengan sub judul ’Kaya, mengapa tak bahagia?’. Dipaparkan pula secara ringkas, hasil riset yakni tiga ciri orang bahagia adalah; (a) mereka yang memberi manfaat bagi orang lain – kehadirannya dirasakan sebagai keberuntungan bagi orang lain tanpa memandang latar belakang sosial; (b) menginspirasi – menjadi pendorong/ motivasi orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan; (c) warisan bernilai – mereka yang bekerja penuh waktu untuk mewariskan sesuatu yang bernilai/berharga seperti ide, ilmu atau kader yang menghantar orang lain pada kehidupan lebih baik.
Bagian terakhir buku ini menyediakan metode untuk olah otak. Metode ALISSA (Aman, Latihan, InfoNUT, Sosialisasi – termasuk stress aware, conflict aware, dan communication aware, Santai – termasuk seks, dan Aku mencintai – berintikan spiritualitas. Metode yang diajukan Pasiak ini bertujuan untuk mengembangakan Raga (fisik), Rasio ( pikir), Rasa (emosi) dan Ruh (spiritualistas) (h.245).
Beragam latihan sederhana dapat dilakukan setiap orang untuk mengoptimalkan otaknya, seperti memaksimalkan kedua tangan kanan-kiri yang berarti mengoptimalkan fungsi otak kanan-kiri (berlaku silang). Bagi pengguna tangan kanan, berlatihlah menulis, menggambar atau mengambil benda dengan tangan kiri. Hal sederhana yang sering menjadi ’pelanggaran norma kesopanan’ ini sesungguhnya sangat bermanfaat.
Intinya, berilah kejutan-kejutan bagi otak kita. Semakin banyak kejutan, maka kita membuat jaring laba-laba baru, sirkuit baru dan semakin optimallah otak kita. Jangan berhenti dan memelihara status quo!
Anda bisa bermain-main seperti berjalan mundur (sangat dianjurkan melakukannya di rumah saja), bermain gitar dengan tangan kanan memegang grip dan kiri memetik dawai (bagi pengguna tangan kanan/ sebaliknya), menggambar objek terbalik (misal kursi, gambarlah posisi kaki kursi di atas hingga objek lebih rumit seperti manusia), mendengarkan musik ketika melakukan pekerjaan serius (otak kanan-kiri terlatih), mempelajari bahasa asing, dsb.
Penulis menilai bagian terakhir ini bisa lebih diringkas dan to the point. Penjelasan pada contoh latihan terasa agak bertele, meskipun kemungkinan besar dimaksudkan agar luwes secara bahasa. Bahkan buku yang sangat informatif ini perlu dipecah menjadi dua - tiga buku kecil, sehingga bisa terjangkau oleh masyarakat luas secara ekonomi. Hal ini penting untuk menjadi wacana penulis-penerbit, mengingat banyak keterangan medis (otak) terkait dengan pandangan keliru tentang otak manusia. Sebut saja dari sisi gender yang sering dikaitkan dengan agama, hingga norma masyarakat yang justru ’melumpuhkan’ potensi otak yang tak terbatas.
Buku tebal ini ditutup dengan lampiran tabel zat-zat yang sangat berbahaya bagi otak, struktur dan fungsi otak. Pesan lain yang coba ditekankan adalah otak tak pernah tua, sepanjang penggunanya tidak berhenti menggunakannya. Mari optimalkan potensi otak kita dengan terus bergerak, seperti detak jantung yang tak pernah berhenti, itulah inti kehidupan: bergerak.










